Kemenkes Dukung Transformasi Layanan Farmasi Secara Digital

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Perkembangan teknologi saat ini, diharapkan dapat menjadi solusi dalam menjalani suasana pandemi, yang mewajibkan pembatasan sosial sebagai bagian upaya pencegahan penularan.

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono menyatakan pemerintah sangat mendukung pemanfaatan teknologi dalam bidang layanan kesehatan.

“Langkah para pelaku farmasi untuk terlibat aktif dalam peningkatan pelayanan farmasi melalui teknologi, sangat kami apresiasi. Apalagi hal ini memang dibutuhkan di masa-masa seperti pandemi sekarang,” kata Dante dalam acara kesehatan, Jumat (27/8/2021).

Ia menyebutkan, langkah para pelaku farmasi ini akan menjadi suatu kemajuan dalam transformasi praktik kefarmasian.

“Apoteker sebagai salah satu tenaga kesehatan yang melayani masyarakat secara langsung, diharapkan dapat beradaptasi untuk mengimplementasikan teknologi komunikasi dan informasi secara komprehensif dan holistik,” ucapnya.

Dengan adanya layanan secara digital, maka masyarakat tak perlu takut lagi untuk tetap mendapatkan informasi terkait obat-obatan yang mereka konsumsi atau yang harus mereka dapatkan.

“Kemudahan masyarakat dalam mengakses fasilitas layanan kesehatan menjadi perhatian utama pemerintah. Termasuk, dalam hal informasi obat-obatan. Hal ini akan sangat berarti dalam upaya Kemenkes untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan,” ucapnya lagi.

Hal senada juga disampaikan Ketua Umum PP Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), apt Drs Nurul Falah Eddy Pariang yang menyatakan, pihak pelaku farmasi terus berupaya meningkatkan kompetensi dalam menyikapi perkembangan teknologi.

“Saat ini teknologi informasi begitu digdaya berevolusi dan digitalisasi menjadi anak kandungnya. Dunia Kesehatan termasuk kefarmasian, bahkan seluruh aspek kehidupan mengalami keadaan yang penuh gejolak, ketidakpastian, situasinya menjadi kompleks dan rumit serta serba tidak jelas, atau yang lebih dikenal dengan sebutan VUCA (volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity),” kata Nurul Falah dalam kesempatan yang sama.

Tanpa kesiapan, maka buka tak mungkin dunia farmasi Indonesia akan terjebak dalam  VUCA tersebut.

“Sehingga kalau praktik kefarmasian yang kita lakukan masih secara konvensional, maka bukan tidak mungkin kalau di masa yang tidak terlalu lama ke depan menjadi pusing bin tunggang langgang,’’ tuturnya.

Ia menyebutkan IAI terus melakukan analisa, menambah pengetahuan dan meningkatkan kompetensi digital agar profesi apoteker semakin digandrungi masyarakat dan berkontribusi besar, yaitu manfaatnya dirasakan oleh negara dan bangsa.

‘’Pendeknya, apoteker harus bersahabat akrab dengan wilayah digital. Sehingga masyarakat bisa mendapatkan manfaatnya,” pungkasnya.

Lihat juga...