Kolaborasi Lintas Sektor Kunci Pengawasan Pemanfaatan Teknologi Nuklir

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Pengawasan pengembangan dan pemanfaatan tenaga nuklir tetap harus dilakukan walaupun pandemi tengah berlangsung di seluruh dunia. Keefektifan pengawasan dapat dilakukan dengan mengandalkan kolaborasi antar lembaga dan kerja sama dengan akademisi, dalam menciptakan suatu sistem berbasis IT yang dapat melakukan pengawasan keamanan dan keselamatan, tanpa harus mengunjungi fasilitas pengembangan ataupun fasilitas operasional.

Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), Prof. Dr. Jazi Eko Istiyanto menyatakan, inovasi dalam bidang infrastruktur pengawasan merupakan komitmen dalam menjaga pengawasan pengembangan dan pemanfaatan teknologi nuklir.

“Melanjutkan apa yang sudah dimulai tahun 2020, BAPETEN dan BATAN terus mengimplementasikan integrasi sistem berbasis IT, baik e-LIRA maupun SMILE, sehingga membantu pemantauan selama masa pandemi ini,” kata Jazi dalam Seminar Keselamatan Nuklir 2021, yang diselenggarakan oleh FMIPA ITB dan BAPETEN, Rabu (4/8/2021).

Tak hanya berhenti pada aplikasi yang sudah ada, BAPETEN juga sedang menyusun regulasi yang beradaptasi pada kondisi pandemi ini, yaitu SI-EARNEST.

“Dukungan dari Kementeri Kesehatan, juga sangat kami apresiasi. Karena selalu menjaga komitmen untuk tidak akan menandatangani dokumen CARS, jika ada satu saja dokumen perizinan BAPETEN yang belum terselesaikan,” ucapnya.

Dukungan akademisi, juga memiliki nilai penting bagi BAPETEN dalam melakukan inovasi di era pandemi.

“Tak hanya di Indonesia, di tataran global pun, IAEA mendorong para badan pengawas di seluruh negara untuk tetap melakukan pengawasan secara efektif dengan memanfaatkan teknologi informatika di masa pandemi ini,” tandasnya.

Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Reini Wirahadikusumah, PhD, menyatakan dalam mewujudkan sustainable goals pada 2030, salah satu aspek yang ingin dicapai adalah energi bersih dan terjangkau dalam kaitannya dengan perubahan iklim.

“Fenomena inti atom sangat potensial untuk membantu target tersebut. Energi nuklir dengan kerapatan energi tinggi, tidak menghasilkan emisi karbon dalam jangka pemakaiannya,” kata Reini, dalam kesempatan yang sama.

Penggunaan energi nuklir sebagai penghasil listrik juga sudah dikembangkan mulai dari yang besar hingga yang berkapasitas mikro, yaitu 5-10 MW.

Reaktor nuklir tak hanya sebagai penghasil listrik tapi juga dikembangkan dalam bidang lainnya. Salah satunya di bidang kesehatan. Misalnya untuk diagnosa maupun terapi.

“Untuk mengeksplorasi lebih dalam, peran akademisi menjadi penting untuk terus mengembangkan ilmunya dan terus menginisisasi pengkajian pada seluruh aspek pengembangan nuklir untuk membantu pengambilan kebijakan yang prudent,” ujarnya.

Termasuk dalam hal prosedur keselamatan dan pengawasan tingkat tinggi.

“Disini lah peran kerja sama dan kolaborasi antara pemangku kepentingan, instansi pengawas dan akademisi. Untuk menjamin semua bisa dilaksanakan dengan tetap mengutamakan keamanan dan keselamatan,” pungkasnya.

Lihat juga...