LIPI: Timun Laut Komersial Lombok Barat Sangat Potensial untuk Dikembangkan

JAKARTA — Peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ismiliana Wirawati mengatakan perairan Lombok Barat memiliki potensi kekayaan hayati yang dapat dimanfaatkan, yakni timun laut komersial atau teripang.

“Perairan Lombok Barat ini memiliki keanekaragaman jenis timun laut yang sangat tinggi,” katanya dalam webinar Biodiversitas dan Kekayaan Hayati Laut Pulau Lombok yang diselenggarakan Balai Bio Industri Laut LIPI di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan potensi timun laut, terutama teripang, sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan oleh manusia, namun harus tetap memperhatikan konservasinya agar keberlanjutan pemanfaatan timun laut tersebut dapat berlangsung lama.

“Tercatat dari 31 jenis timun laut yang ditemukan lewat penelitian di Teluk Kombal, Teluk Medana dan Sekotong di Perairan Lombok bagian barat dan 23 jenis merupakan timun laut yang dipanen dari alam dan diperdagangkan,” katanya..

Timun laut yang dipanen dari alam dan dimanfaatkan oleh manusia, katanya, disebut dengan teripang. Selain mempunyai kandungan kolagen yang sangat tinggi, teripang juga memiliki zat antioksidan dan antikanker.

Oleh karenanya, menurut dia, teripang memiliki manfaat yang sangat besar bagi manusia untuk peremajaan sel di tubuh, memperbaiki stamina tubuh, dan untuk obat-obatan dan kosmetik.

Selain memiliki potensi yang sangat tinggi untuk pemanfaatan timun laut komersial atau teripang, katanya, Perairan Lombok Barat memiliki potensi untuk dijadikan kawasan konservasi karena dari tiga teluk saja di perairan itu, didapatkan 31 jenis timun laut.

Ia menjelaskan timun laut memiliki kemampuan bertahan hidup terhadap variasi perubahan suhu dan salinitas yang besar.

“Habitat timun laut antara lain di pasang surut, di lamun, pantai berbatu, pantai berpasir, di area terumbu karang dan dasar laut berpasir, dan di laut dalam,” katanya.

Menurut dia timun laut berperan penting dalam mendaur ulang sedimen yang berada di dasar laut yaitu dengan cara memakan sedimen dan mengeluarkannya dalam bentuk sedimen yang mengandung nitrogen dan fosfor untuk menyuburkan produktivitas biota laut lainnya.

Meski potensi pemanfaatannya tinggi, katanya, namun timun laut masih memiliki ancaman yang tinggi, terutama untuk jenis-jenis komersial seperti teripang susu, teripang pasir dan gamat.

Karena tingginya pemanfaatan, kata dia,  sehingga perlu untuk mengenal jenis-jenis yang ada di Perairan Lombok bagian barat sebelum mengalami kepunahan lokal atau kepunahan secara umum.

“Dengan mengenal jenis tersebut maka kita bisa membuat beberapa rekomendasi pemanfaatan untuk menjaga kelestariannya,” demikian Ismiliana Wirawati. [Ant]

Lihat juga...