Makna-Makna di Balik Prosesi Tedhak Siten Cucu Tutut Soeharto

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Pasangan Adjie Sulistiyo Dwi Putra Maryulis (Adjie) dan Danvy Sekarjati Indri Haryati Rukmana (Sekar) terlihat sangat bahagia menjalani prosesi upacara tedhak siten putra keduanya yakni Aryandra Athallah Sulistiyo Rukmana.

Upacara adat Jawa tedhak siten ini digelar di kediaman Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut Soeharto, yang merupakan eyang dari Aryandra  Athallah Sulistiyo Rukmana.

Tedhak siten merupakan rangkaian prosesi adat tradisional dari tanah Jawa yang diselenggarakan pada saat pertama kali seorang anak belajar menginjakkan kaki ke tanah. Tedhak berarti kaki atau melangkah, dan siten berasal dari kata siti yang artinya tanah. Upacara tedhak siten ini dilakukan sebagai rangkaian acara yang bertujuan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berlimpah doa dan harapan serta arahan dalam hidup.

Tedhak siten atau turun tanah bagi seorang anak yang genap usia 7 bulan. Satu lapan adalah 35 hari. Biasanya anak seusia itu ingin turun ke tanah, brangkangan atau merangkak. Dan, Aryandra Athallah Sulistiyo Rukmana, telah memasuki usia itu untuk belajar menginjak tanah.

“Semoga anak kami ‘Aryanda’ menjadi pribadi yang mandiri, menjadi anak yang saleh, berhati besar dan berjiwa besar. Serta tidak luput untuk selalu berbakti kepada orangtua, keluarga dan negara,” ucap Adjie, sang ayah  dalam sambutannya pada acara tedhak siten putra keduanya Aryandra Athallah Suliatiyo Rukmana, di kediaman eyang Tutut Soeharto di Jalan Yusuf Adiwinata, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (28/8/2021).

Sang ayah, Adjie yang didampingi istri tercinta Danvy Sekarjati Indri Haryati Rukmana (Sekar) mengucap syukur atas karunia Allah swt, yang pada hari ini keluarga besar, dan saudara dapat berkumpul guna menyaksikan acara tedhak siten putra tercintanya.

“Kami mohon doa, semoga anak kami ‘Aryandra’ kelak menjadi panutan seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Adjie.

Dalam prosesi tedhak siten yang dipandu oleh Yanti Rukmini, perwakilan dari keluarga besar Ibu Tutut Soeharto, proses tedhak siten setahap demi setahap dijalani dengan rangkaian adat penuh pesan.

Dengan didampingi kedua orang tuanya, yakni Adjie, sang ayah dan ibunda Sekar, Aryandra mulai dibimbing dibimbing melompati tujuh tumpeng gudangan yang biasa disebut tumpeng slamet atau tumpeng kuat yang dilengkapi dengan berbagai macam lauk pauk macam-macam rasa.

Tumpeng ini beragam rasa ada manis,  gurih, agak asam, agak pahit (terdapat dalam urapan atau gudangan dengan bahan daun pepaya).

Makna dari tujuh tumpeng gudangan yakni dalam situasi apa pun, dengan segala tulus dan kesabaran, orang tua dan para sesepuh,  membimbing serta memperkenalkan si anak, berbagai tantangan dan rintangan.

Bentuknya dengan melompati gunung satu ke gunung lainnya (tumpeng diibaratkan gunung), dan diperkenalkan pula dengan berbagai macam situasi (rasa). Sehingga diharapkan dengan berbekal tuntunan agama, bimbingan serta pengarahan para sesepuh dan orang tua, si anak bila kelak menghadapi problem kehidupan tidak akan takut, canggung atau bingung, bila kelak menghadapi kehidupan yang manis menyenangkan, dan tidak akan lupa diri serta sombong.

Makanan tradisional selanjutnya yakni, berupa jadah tujuh warna. Makanan ini terbuat dari beras ketan dicampur parutan kelapa muda dan ditumbuk hingga bercampur menjadi satu dan bisa diiris.

Beras ketan tersebut diberi pewarna kuning, ungu, coklat, hijau, biru, merah, dan putih. Jadah ini menjadi simbol kehidupan bagi anak, sedangkan warna-warni yang diaplikasikan menggambarkan jalan hidup yang harus dilalui si bayi kelak.

Kemudian si anak dituntun menaiki tangga dari tebu yang berjumlah tujuh (7) anak tangga. Sesampai di atas didudukkan sebentar, lalu diangkat (dilambungkan) tinggi ke udara sambil didoakan.

Makna yang terkandung di dalamnya yakni diharapkan, dalam memasuki kehidupan, agar segala sesuatu yang sudah dipikir matang-matang dikerjakan/dilaksanakan dengan tekad yang bulat, pantang mundur. Berbekal kemantapan dalam iman dan takwa, akan mampu meraih cita-cita mulia dengan doa dari orangtua.

“Bahan tangga dari tebu wulung, batang tebu itu di luar keras, di dalam rasanya manis. Ini melambangkan yakni di balik perjuangan yang keras, apabila berhasil pasti akan manis terasa,” ucap Yanti, pemandu acara tedhak siten.

Setelah dilambungkan ke atas, kemudian si anak dituntun untuk meniti kembali anak tangga tebu satu per satu turun ke bawah.

Adjie Sulistiyo Dwi Putra Maryulis yang didampingi istrinya Danvy Sekarjati Indri Haryati Rukmana, melambungkan Aryandra Athallah Sulistiyo Rukmana sebagai prosesi upacara tedhak siten yang digelar di rumah eyang Tutut Soeharto di Jalan Yusuf Adiwinata, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (28/8/2021). -Foto: Sri Sugiarti

Digambarkan bahwa si anak diajak turun untuk lebih mengenali kehidupan dunia, dan seolah hendak mengingatkan, bahwa ada saat naik, pasti ada pula saatnya turun.

Pada saat nasib baik sedang menuntun naik atau ke atas, jangan sombong atau takabur. Dan pada saat harus turun, turunlah dengan baik-baik dan tenang. Tidak perlu ragu, tak usah resah atau gelisah. Ikuti irama kehidupan sesuai kodratnya.

Sesampai di bawah, kembali si anak diinjakkan kakinya pada jadah berbagai warna hanya urutan warnanya terbalik menjadi kuning, ungu, coklat, hijau, biru, merah dan putih.

Lihat juga...