Masyarakat Petani di Sambas Butuh Bantuan

PONTIANAK – Bupati Sambas, Kalimantan Barat, Satono, mengatakan bahwa saat ini lebih dari 70 persen masyarakat Sambas adalah petani dan untuk itu bantuan dari pemerintah pusat harus berkelanjutan.

“Kenceng atau periuk orang Sambas itu hampir semuanya ada di sektor pertanian. Sekarang kita ingin menggenjot hasil produksi, terutama padi. Saya ingin lihat, padi yang katanya ada sekian ton berasnya di mana, padinya mana? Kemudian apakah itu berbanding lurus dengan kesejahteraan petani?” ujarnya saat dihubungi di Sambas, Minggu (22/8/2021).

Saat ini, sambung dia, pekerjaan rumah bagi pemerintah di sektor pertanian sangat banyak. Namun pemerintah di masa Satono-Rofi sedang fokus meningkatkan jumlah produksi, terutama padi.

“Kemarin yang kita panen di Lonam ada 8.05 ton per hektare, terbanyak se-Kalbar. Ini merupakan kabar yang luar biasa. Harapan saya satu hektare itu bisa 10 ton, dalam setahun bisa 3 kali panen varietas inpari 36 dan 37 itu. Tapi lagi-lagi, memang masih banyak hal yang perlu kita perhatikan,” kata dia.

Satono mengatakan, keberhasilan pembinaan sektor pertanian tidak lepas dari peran penyuluh (PPL), namun faktanya saat ini jumlah penyuluh pertanian di Kabupaten Sambas sangat minim. Karenanya, dia ingin Daniel Johan sebagai wakil rakyat di Senayan untuk mengawal itu sampai ke pemerintah pusat.

“Penyuluh pertanian di Sambas sangat terbatas. Perlu dukungan Pak Daniel Johan, karena bagaimana memberikan pendampingan kepada bapak ibu petani yang di bawah inilah yang paling penting,” katanya.

Satono mengatakan, tahun ini pemerintah daerah telah berhasil menambah jumlah pupuk subsidi yang awalnya hanya 3.000 ton menjadi 17.700 ton, bertambah 14.700 ton. Tujuannya, pemerintah ingin mengembalikan kuota pupuk subsidi yang dulu pernah 20.000 ton per tahun.

Lihat juga...