Menengok Usaha Pembuatan-Perbaikan Kapal Ikan Tradisional di Bandar Lampung

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Suara mesin ketam atau penghalus kayu elektrik berpadu dengan deru ombak. Puluhan anak bermain di sekitar tumpukan kayu, papan bahan kapal tangkap ikan jadi pemandangan lumrah di Pantai Harnas, Kelurahan Way Tataan, Kecamatan Teluk Betung Timur, Kota Bandar Lampung.

Muhamad Rifaldi, akrab disebut sebagai tukang kayu spesialis pembuatan kapal ikan dan perbaikan. Lokasi pembuatan kapal ikan tradisional berbahan kayu berada di gang Harnas, Jalan RE. Martadinata. Menyesuaikan order, ia kerap diminta oleh bos pemilik perahu untuk konstruksi perahu dari awal hingga siap digunakan. Jasa tukang kayu sebutnya hanya sebagian dari pekerja yang terserap untuk membuat perahu.

Rifaldi sapaan akrabnya dibantu tukang kayu lain bagian pemasangan. Sebagian bertugas membuat pasak alih alih memakai paku besi, sebagian memakai paku kayu. Jenis kayu kelas 1 meliputi meranti, mentru, laban, kayu tabu yang tahan air digunakan. Sebagian kayu jati kelas, mahoni dan kayu pule yang kualitasnya tidak diragukan telah disiapkan. Berbagi tugas dilakukan untuk membuat pesanan konstruksi kapal kayu.

“Keahlian membuat kapal ikan dengan peran sebagai tukang kayu merupakan pekerjaan warisan dari ayah, awalnya melihat cara mengukur kayu, membentuknya menjadi papan untuk dinding sehingga kini saya mewarisi keahlian sebagai tukang kayu spesialias pembuatan kapal tangkap ikan,” terang Muhamad Rifaldi saat ditemui Cendana News, Selasa (24/8/2021).

Muhamad Rifaldi menyebut pengerjaan konstruksi kapal ikan persis seperti membuat rumah. Sistem yang sama diakuinya mulai dari rancang bangun kapal ikan sesuai model yang diinginkan. Wilayah pesisir dan kondisi perairan sebutnya menentukan jenis kapal tangkap ikan yang akan dibuat. Umumnya cetak biru (blue print) kapal ikan jenis kasko telah dikuasainya sesuai keinginan pemilik.

Ukuran kapal ikan sebutnya menyesuaikan kebutuhan mulai dari panjang 20 meter hingga 25 meter. Panjang dan lebar kapal menyesuaikan area sandar berbentuk dermaga pendaratan ikan dan kontur pantai. Dominan kapal tangkap ikan jenis kasko dengan konstruksi bagian haluan lancip, kuat dan kekar. Bagian buritan melebar menjadi ciri khas perahu tangkap ikan.

“Haluan depan yang kuat menyesuaikan sebagian lokasi sandar yang sebagian batu karang, dermaga cor beton sehingga harus kuat,” terangnya.

Muhamad Rifaldi menyebut jasa konstruksi baru sesuai kesepakatan dengan pemesan. Dominan ia hanya berperan sebagai tukang sehingga bahan kayu, paku, plat besi baja, bambu dan kebutuhan lain telah disiapkan pemilik. Ia menyebut kapal kayu tradisional minimal menyiapkan modal ratusan juta. Biaya pembuatan memakai sistem borongan persis seperti membuat rumah, nilainya puluhan juta hingga selesai.

Proses pembuatan perahu sebut Muhamad Rifaldi tetap memakai kearifan lokal. Syarat khusus berupa syukuran memohon keselamatan dilakukan pada tahap awal. Saat konstruksi kapal ikan selesai pemilik akan mengundang semua tukang dan warga sekitar untuk kenduri, bersyukur. Namun ia menyebut proses pembuatan kapal tetap memperhitungkan ilmu teknik.

“Sebagai tukang kayu saya lulusan STM pertukangan sehingga perhitungan ukuran bisa lebih presisi,” ulasnya.

Proses pembuatan kapal tangkap ikan sebut Muhamad Rifaldi butuh ketelitian. Konstruksi semua bahan kayu dibentuk menjadi dinding, lunas, haluan, hingga bagian ruang mesin, ruang kemudi. Kerja sama dengan semua tukang kayu yang terlibat dilakukan hingga proses finishing pengecatan butuh waktu lima hingga enam bulan. Tahap pemasangan mesin sebutnya akan dilakukan bertahap oleh ahli mesin.

Keahlian sebagai tukang kayu spesialis pembuatan kapal ikan sebut Muhamad Rifaldi jadi penopang usaha. Bagi sejumlah nelayan, perahu tangkap ikan jadi modal. Perahu tangkap ikan berbagai ukuran akan menjadi lapangan pekerjaan untuk warga pesisir. Hasil tangkapan ikan menjadi sumber bahan pembuatan ikan asin, ikan asap dan dijual segar.

“Usaha pembuatan perahu jadi tahap awal sebuah rangkaian usaha pendukung hingga bisa menghasilkan ikan laut,” ulasnya.

Usman (kiri), salah satu pemilik kapal tangkap ikan melakukan pendempulan dinding sementara Sutarto (kanan atas) bersiap melakukan pengecatan di pantai Kelurahan Way Tataan, Kecamatan Teluk Betung Timur, Kota Bandar Lampung, Selasa (24/8/2021). -Foto Henk Widi

Pentingnya keberadaan jasa konstruksi kapal ikan diakui Usman. Sebagai pemilik kapal ia menyebut belas tahun silam hanya memiliki perahu kasko. Setelah memiliki modal ia membuat kapal tangkap ikan ukuran lebih besar. Biaya pembuatan perahu baru sebutnya bisa mencapai ratusan juta hingga satu miliar. Modal itu sebutnya menyesuaikan bahan baku kayu kelas berkualitas.

“Sebagian besar kayu yang saya gunakan jenis mentru, jati hingga pule yang harga perkibiknya bisa mencapai jutaan rupiah karena tahan air dan ringan,” ulasnya.

Usman mengaku melakukan docking atau perbaikan, pemeliharaan kapal ikan. Mesin diturunkan untuk perbaikan dan pemeliharaan. Sistem docking tradisional sebutnya menggunakan jasa tukang kayu untuk perbaikan. Setiap tahun docking mutlak dilakukan untuk pemeriksaan bagian kapal tangkap ikan. Dinding kapal ikan diganti, lunas haluan dan buritan diganti dengan kayu baru.

Tukang kayu sebutnya mengganti dinding agar tidak bocor. Lapisan demi lapisan bahan dempul jadi perekat, pelindung kebocoran. Secara detail pendempulan dengan bahan dempul, damar dilakukan oleh Usman. Pekerjaan skala besar lain dikerjakan tukang kayu dengan waktu dua bulan. Memasuki satu bulan setengah, ia menunggu proses pengecatan.

Sutarto, juru pengecatan menyebut saat ini teknik pengecatan lebih modern. Setelah semua dinding perahu dipastikan telah didempul, lapisan kedap air dioleskan, tahap pengecatan bisa dilakukan. Pengecatan dinding luar kapal sebutnya bukan hanya soal pemilihan warna. Tingkat ketebalan dan jenis cat khusus untuk kapal bertujuan agar lebih awet hindari kebocoran.

Proses pengecatan bagian bawah kapal tangkap ikan, nama kapal hingga dinding dalam dilakukan dengan teliti. Proses pengecatan akan dilakukan selama dua pekan hingga pengeringan. Setelah semua proses dilalui, kapal tangkap ikan tradisional akan ditarik ke pantai. Meski terlihat sederhana, konstruksi kapal ikan tradisional itu menyerap puluhan tenaga kerja dengan peran berbeda.

Lihat juga...