Mentaok, Pohon Legendaris Kebanggaan Masyarakat Kotagede Yogyakarta

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Kawasan Kotagede Yogyakarta selama ini sangat identik dengan Alas Mentaok. Alas Mentaok diyakini sebagai lokasi cikal bakal berdirinya Kerajaan Mataram Islam yang melahirkan raja-raja besar seperti Panembahan Senopati hingga Sultan Agung. 

Nama Mentaok sendiri sebenarnya diambil dari sebuah nama salah satu jenis pohon yang kini sudah mulai langka dan sulit untuk ditemukan. Menurut M Taufiq Joko Purwanto yang dikutip dalam situs Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Pohon Mentaok dikenal oleh masyarakat dengan beberapa nama lokal antara lain, Bintaos, Mentaos, Benteli Lalaki, Bentawas, Tawas dan Dediteh. Secara ilmiah, jenis tanaman ini mempunyai nama Wrigtia Javanica A. DC.

Mentaok merupakan tanaman berhabitus pohon, tanaman ini bisa mencapai ukuran tinggi 35 meter dengan diameter sebesar 50 cm. Kulit batangnya berwarna abu-abu coklat hingga kuning kecoklatan, beralur agak dalam. Daun tunggal berbentuk bulat telur dengan ujung daun meruncing. Daunnya memiliki rambut halus pada bagian permukaan dan pada bagian bawah daun sedikit kasar.

Bunganya biseksual, berwarna putih kekuning-kuningan atau merah muda hingga merah tua, terdapat dalam bentuk malai pada ujung ranting. Buah berbentuk lonjong dengan kulit buah yang keras dan memiliki belahan pada bagian tengah. Buah berwarna kecoklatan, akan pecah ketika tua dan biji akan tersebar. Kayu mentaok mempunyai tekstur yang halus, kuat dan keras.

Kayu mentaok banyak dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi bangunan, pensil, instrumen musik, wayang, sarung keris atau wrongko, patung, perkakas rumah tangga, dan karya seni ukir. Getah yang didapat dari bagian kulit batang dapat dimanfaatkan sebagai obat penyakit disentri, sedangkan daun dapat dimanfaatkan sebagai obat anti radang mata.

Pada zaman kejayaannya dulu, mentaok banyak dimanfaatkan untuk tiang pancang dermaga di sungai atau laut bagi para nelayan tradisional, konstruksi jembatan tradisional, ompak ukir pada bangunan joglo tradisional dan konstruksi bangunan yang berada di kondisi ekstrim, termasuk dalam hal ini benteng pertahanan yang sering dibangun pada pusat kerajaan di masa lampau.

Di Kotagede sendiri pohon Mentaok salah satunya masih bisa ditemui di komplek Masjid Gedhe Mataram Kotagede yang merupakan masjid tertua di Yogyakarta. Tepatnya di pintu masuk kawasan makam raja-raja Kotagede tempat disemayamkannya raja pertama kerajaan Mataram Islam, Panembahan Senopati, yang berada tepat di samping atau belakang masjid.

Salah seorang penunggu bangsa Dudo komplek makam Kotagede, Tono (69), Rabu (4/8/2021). -Foto Jatmika H Kusmargana

Menurut salah seorang penunggu bangsa Dudo komplek makam Kotagede, Tono (69), pohon Mentaok di kawasan ini hanya berjumlah 1 buah. Usianya sekitar 15 tahun, dan ditanam oleh para abdi dalem keraton yang bertugas menjaga dan merawat makam. Pohon ini memiliki tinggi sekitar 8-10 meter dengan diameter batang utama sekitar 20 cm.

“Pohon Mentaok ini cukup sulit dibiakkan. Karena hanya setahun sekali berbunga. Dari sekian banyak bunga itu, yang bisa menjadi buah sangat sedikit, paling hanya 4-5 buah. Bentuknya mirip seperti bunga Kamboja, berwarna putih. Begitu pecah bijinya yang mirip bulir padi akan keluar seperti kapas di ujungnya. Biji inilah yang biasanya terbang tertiup angin kemudian jatuh ke tanah dan tumbuh menjadi tanaman baru,” katanya Rabu (04/08/2021).

Karena keberadaannya sudah cukup langka, Tono mengaku berupa membudidayakan pohon Mentaok itu dengan cara memindahkan setiap benihnya yang tumbuh ke dalam polybeg. Selain itu ia juga berupaya memungut setiap biji-bijinya yang jatuh ke tanah untuk kemudian di semai. Saat ini sudah ada beberapa bibit pohon Mentaok yang berhasil ia budidaya.

“Biasanya banyak yang datang ke sini untuk melihat dan mencari bibit pohon Mentaok. Makanya saya coba biakkan. Rata-rata untuk diteliti, baik itu oleh mahasiswa, dosen, dan sebagainya,” katanya.

Kakek asal Solo ini mengaku membudidayakan pohon Mentaok agar semakin banyak orang yang mau menanam pohon langka ini. Sehingga pohon Mentaok bisa tetap lestari dan tidak punah begitu saja. Ia pun dengan sengaja tak menjual bibit pohon yang berhasil ia dbudidayakan. Namun biasanya orang yang mengambil bibit akan meninggalkan uang seikhlasnya.

“Karena pohon Mentaok ini kan pohon legendaris sekaligus kebanggaan masyarakat Yogyakarta dan Kotagede,” pungkasnya.

Lihat juga...