Meski Ada Pengunjung, Pantai Wisata di Sikka Memilih Tutup

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Pantai wisata yang bertebaran di wilayah barat Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) memilih tutup sesuai imbauan pemerintah, akibat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level IV.

Penjaga pantai wisata Pantai Kita di Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, NTT, Adrianus Wero saat ditemui di pantai wisata tersebut, Minggu (1/8/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Sejak 26 Juli lalu kami tutup karena ada aturan PPKM Level IV hingga 2 Agustus 2021 besok,” kata Adrianus Wero, penjaga pantai wisata Pantai Kita, Kelurahan Wailiti, Kabupaten Sikka, NTT, saat ditemui, Minggu (1/8/2021).

Adrianus mengakui, petugas dari kepolisian dan Satgas Covid-19 datang ke tempat wisatanya dan memberitahukan agar selama PPKM Level IV, tempat wisata ditutup sementara.

Ia sebutkan, petugas kepolisian dari Polres Sikka pun datang, bahkan bersama dirinya menggembok pintu gerbang, agar pengunjung tidak bisa masuk ke areal pantai wisata.

“Saya diajak polisi untuk sama-sama menutup pintu gerbang masuk dan menggemboknya. Mereka juga mengambil foto setelah penutupan dan berpesan agar nanti tanggal 3 Agustus baru bisa buka lagi,” ucapnya.

Adrianus mengaku, beberapa rombongan masyarakat yang ingin berwisata pun terpaksa diberikan penjelasan mengenai penutupan tempat wisata ini, meski banyak yang kecewa.

Ia katakan, meskipun saat hari Sabtu dan Minggu bisa memperoleh pemasukan minimal Rp500 ribu saat pandemi Covid-19, namun pihaknya tetap mematuhi imbauan pemerintah.

“Kami juga takut kalau membiarkan pengunjung masuk, meskipun kami juga kesulitan uang. Memang sejak adanya penyakit Covid-19 ini kami hanya berharap ada uang saat hari Sabtu dan Minggu atau hari libur, dimana pengunjung bisa banyak,” ungkapnya.

Sementara itu Endi Dinong, pengusaha tempat wisata di Kelurahan Wailiti mengaku menaati imbauan pemerintah, karena takut akan dikenai sanksi hukum bila nekat beroperasi.

Endi berterus terang kesulitan pendapatan sejak pandemi melanda, karena dalam seminggu, bisa memperoleh pendapatan minimal Rp3 juta dari aktivitas di tempat wisata.

“Mau bagaimana lagi, kalau tidak tutup tempat wisata nanti kami dikenai sanksi. Kami harus kehilangan pendapatan dan sampai sekarang pun tidak ada bantuan dari pemerintah untuk pelaku usaha seperti kami,” ucapnya.

Endi bersyukur masih bekerja di toko penyalur semen, sehingga masih mendapatkan gaji bulanan untuk menghidupi keluarganya, sebab pendapatan dari tempat wisata miliknya hampir tidak ada.

Lanjutnya, selama pandemi Covid-19 melanda, tempat wisata sering tutup, sehingga tidak bisa memberikan honor kepada empat karyawan, sebesar Rp100 ribu per hari, terutama saat hari Minggu atau hari libur.

“Selain mengharapkan pendapatan dari tempat wisata, isteri saya juga bisa berjualan makanan dan minuman sehingga bisa menambah pendapatan. Kini kami hanya hidup dari uang gaji bulanan saya di perusahaan,” terangnya.

Lihat juga...