Meski Pandemi, PT DI Bertekad Tuntaskan Tiga Program Strategis Nasional

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Di tengah kondisi penurunan sektor industri, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) bertekad untuk melanjutkan tiga program strategi nasional. Bukan hanya untuk menjadi bagian dalam menghubungkan seluruh wilayah Indonesia, tapi juga menjadi bagian dalam mempertahankan keamanan nasional.

Presdir PT Dirgantara Indonesia, Dr. Ir. Elfien Goentoro, MBA menyampaikan, kondisi pandemi ini menyebabkan penurunan pada industri. Pada tatanan global, industri mengalami penurunan minimal 40 persen, tidak terkecuali PT DI.

“Tahun 2019 untung Rp150 miliar, sedang semangatnya, pandemi melanda, akhirnya loading kami hanya 40 persen. Tapi, dalam tahun ini, PT DI masih terus melanjutkan program strategis nasional, yaitu pesawat MALE dengan target tahun ini terbang perdana. Sementara untuk pesawat 219 amphibi dan rudal rencananya akan selesai di 2024,” kata Elfien dalam acara IABIE yang diikuti Cendana News, Selasa (24/8/2021).

Ia menekankan, keberadaan PT DI menjadi penting, mengingat kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan 17 ribuan pulau.

“Penerbangan dan perkapalan itu menjadi bagian penting pada negara seperti Indonesia ini. Fungsinya adalah untuk menjangkau dan menghubungkan wilayah 3T itu, terdepan – terpencil – tertinggal,” urainya.

Khusus untuk pesawat amphibi, kebutuhannya adalah untuk memangkas keberadaan pembangunan infrastruktur landasan udara atau bandara.

“Juga akan mempercepat sektor pariwisata. Karena bisa landing di kawasan pantai pulau wisata yang dituju wisatawan,” urainya lagi.

Ia menyebutkan, perkembangan PT DI memang agak lama. Contohnya Cessna yang dibangun sekitar -1980an dengan satu mesin, ditingkatkan menjadi Sky Courier yang memiliki 2 mesin.

“Ya memang lama. Tapi harapannya dapat dihargai dan dipergunakan. Harus ada komitmen untuk dipakai, walaupun belum yang paling modern. Kalau tidak dipergunakan maka industri akan defisit,” kata pria yang menjadi Ketua Dewan Penasehat IABIE ini.

Sama halnya dengan keberadaan rudal, yang saat ini masih sangat minim kepemilikannya oleh Indonesia. Terutama rudal jarak jauh kendali, seperti yang 40 km atau 100 km.

“Sementara Iran punya rudal jarak pendek 400 km. Apalagi yang model mach seperti milik China,” ujarnya.

Elfien menyebutkan Indonesia tak kekurangan orang pintar dalam bidang teknologi.

“Hanya yang kurang adalah manajemen proyeknya dan sistem enginering. Ini lah yang akan membuat perusahaan berbasis teknologi dapat bertahan. Ditambah dengan budaya etos kerja,” pungkasnya.

Lihat juga...