‘Ngagebug’ Padi, Cara Tradisional Hasilkan Bulir

Editor: Makmun Hidayat

BANDUNG — Ngagebug atau memukul tangkai padi di atas batu untuk memisahkan bulirnya, merupakan salah satu cara tradisional yang dilakukan petani agar bisa menghasilkan beras. Cara ini nampak mudah, namun saat dipraktikkan ternyata tidak demikian.

Menurut Kuraesin (61), petani asal Desa Pinggirsari, proses ngagebug butuh kehati-hatian, pasalnya, jika dikerjakan secara serampangan, bulir akan bertebaran ke mana-mana dan sulit untuk diselamatkan.

“Jadi kalau sudah digebug tangkainya itu diayak-ayak dulu, biar padinya jatuh ke alas atau karung penghimpun. Jangan digebug terus langsung diangkat dan digebug lagi, nanti padinya malah jatuh kemana-mana. Ini yang bikin hasil panen sedikit,” kata Kuraesin kepada Cendana News, Senin (2/8/2021).

Selain itu, kegiatan ngagebug juga tidak mudah lantaran membutuhkan stamina dan tenaga yang cukup untuk memukul tangkai padi. Oleh sebab itu, kebanyakan petani yang menjalankan cara tradisional semacam ini akan melakukannya ramai-ramai.

“Cara tradisional begini memang melelahkan, tapi di sisi lain menyenangkan, karena kita bisa beramai-ramai kerjanya. Kalau satu ada yang panen, petani lain pasti akan bantu. Beda kalau pakai mesin, kadang sendirian aja kerjanya,” tukas Kuraesin.

Lebih lanjut, Kuraesin menyatakan, bukan tidak ingin beralih ke cara bertani yang lebih modern, namun ia mengaku tidak memiliki kemampuan baik secara materi maupun skill menjalankannya.

“Siapa sih yang tidak mau gampang, tapi kan kita petani kecil begini sadar diri, alat-alat pertanian mahal, belum lagi kita juga ga tau cara pakainya. Iya sudahlah kita pakai cara yang lama, yang sudah turun temurun. Yang penting kita masih mau bertani,” papar Kuraesin.

Sementara itu, menurut Ayi (46), peternak sapi asal desa yang sama, cara tradisional yang dilakukan petani mampu memberikan keuntungan kepada para peternak seperti dirinya. Sebab, mereka bisa memanfaatkan tangkai padi bekas panen tersebut untuk pakan (makanan) hewan ternak mereka.

“Iya kita sekalian bantu-bantu proses panen petani, bisa ikut ngagebug atau bantu memangkas tangkai padinya. Nanti tangkai itu kita ambil buat jukut. Jadi ngga susah-susah lagi cari rumput,” ujar Ayi.

Ayi berharap cara bertani tradisional semacam ini bisa tetap terjaga di wilayahnya. Karena, lanjut Ayi, silaturahmi antarpetani dan peternak akan selalu terjalin bila cara ini dipertahankan.

“Kalau orang yang modern itu sudah susah dibantu, karena kerja pakai mesin. Lagi pula kan sebetulnya ongkos tanam cara tradisional lebih murah, walaupun memang lebih capek,” pungkas Ayi.

Lihat juga...