Pedagang di Pasar Jaya Cijantung Keluhkan Dampak PPKM

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA –  Pedagang pasar tradisional mengeluhkan perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat hingga 9 Agustus 2021. Keluhan disampaikan oleh para pedagang di Pasar Jaya Cijantung, Jakarta Timur.

Irman (30), pedagang pakaian mengatakan, pandemi Covid-19 yang melanda dengan kebijakan penerapan PPKM membuat kondisi usahanya terpuruk.

Irman saat ditemui di tokonya di Pasar Jaya Cijantung, Jakarta Timur, pada penerapan perpanjangan PPKM Level 4, Selasa (3/8/2021). Foto: Sri Sugiarti.

Penurunan omzet menurutnya telah terasa sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga di angka 50 persen. Pembeli sepi karena banyak jalan yang ditutup, utamanya jalan kompleks Cijantung II yang merupakan jalan utama menuju Pasar Jaya Cijantung, Jakarta Timur.

“Fluktuatif dari awal PSBB turun 50 persen. Usai PSBB agak naik pembeli mulai ramai. PPKM Darurat turun drastis lagi 60 persen lebih,” ujar Irman, kepada Cendana News ditemui di tokonya di area Pasar Jaya Cijantung, Jakarta Timur, Selasa (3/8/2021).

Hingga kemudian beralih nama PPKM Level 4 yang diperpanjang sampai tanggal 9 Agustus 2021, diakuinya semakin membelenggu para pedagang.

“Sekarang kondisinya sangat sepi, bukan merosot lagi tapi jungkir balik, pendapatan sangat jauh dari sebelum ada corona,” ujarnya.

Awal corona melanda, dia mengaku masih menyewa tiga toko untuk usaha pakaian. Namun kini tokonya tinggal dua. “Satu toko sudah saya tutup, nggak sanggup bayar sewa. Ini saja jualan ngabisin stok saja masih banyak. Saya belum belanja lagi, ya saking sepi pembeli,” tukasnya.

Senada dengan Irman, Dewi Ratnaningsih, pedagang pakaian mengaku kesulitan berjualan karena sepinya pengunjung. Adanya kebijakan PPKM Level 4 yang diperpanjang sampai 9 Agustus menghambat aktivitas jual beli di pasar tradisional.

“Sepi banget, sangat jauh banget omzet turun 70 persen lebih. Sehari terjual 2 potong baju laku itu sudah lumayan. Terkadang seharian nggak ada yang beli, nggak laku,” ujar Dewi.

Dia mengatakan, untuk omzet atau penghasilan sebelum PSBB maupun PPKM, setidaknya bisa mencukupi keluarganya di rumah. Namun sejak kebijakan itu diterapkan omzet menurun drastis.

“Dulu itu Rp 1 juta lebih dalam sehari dapat. Sekarang paling Rp 200 ribu, kadang nggak ada pembeli. Menjerit dan terpuruk pedagang sekarang ini, tapi mau gimana lagi, tetap harus bertahan,” tukas perempuan kelahiran 47 tahun lalu ini.

Menurutnya, kalau toko tutup maka otomatis pemasukan tidak ada, sementara pengeluaran tetap harus bayar listrik, sewa toko dan bayar kontrakan rumah.

“Dulu, saya punya karyawan yang bantuin. Tapi sekarang nggak lagi, karena pendapatan turun, nggak sanggup bayar belum lagi untuk cukupi kebutuhan lain. Jadi sekarang, saya dan suami yang jaga toko gantian,” ujarnya.

Syahrul, pedagang hijab mengatakan, tidak hanya berdampak kepada penghasilan, jam operasional pasar menjadi lebih sempit. Biasanya pukul 07.00-18.00 WIB, sejak wabah corona jam operasional dikurangi. Apalagi dengan penerapan PPKM Darurat hingga berubah nama jadi level 4, semakin diperketat.

“Sudah sepi, jam buka juga dipersempit pukul 08.00-15.WIB, itu gerbang pasar sudah dikunci. Jadi ya kita pedagang jam 14.30 harus benah-benah untuk tutup toko,” ujar Syahrul.

Sehingga kata dia, berjualannya hanya sebentar dalam kondisi sepi pembeli. “Sekarang saja pengunjung anjlok 75 persenan, tapi saya mencoba bertahan sampai pandemi berakhir. Ya kalau sampai tutup, saya nggak tahu harus gimana,” ujarnya.

Demikian juga Astuti, pedagang bumbu rempah dan bumbu dapur halus mengeluhkan pembeli tidak seramai sebelum PPKM. “Ya pendapatan turun 50 persen, apalagi sayuran kan nggak bisa distok,” ujarnya.

Sehingga dia mengakali pembeli sayuran ke Pasar Induk Kramatjati dalam jumlah sedikit. “Sekarang belanja sayur juga saya kurangi yang penting komplit,” ujar Astuti.

Para pedagang tersebut berharap pemerintah memberikan bantuan modal usaha. Juga pandemi cepat berakhir sehingga perekonomian kembali normal.

Ketua Bidang Infokom DPP Ikatan Pedagang Indonesia (IKAPI), Muhammad Ainun Najib mengatakan, dalam peraturan PPKM level 4, sektor pasar tradisional diizinkan buka sampai pukul 15.00 WIB dengan kapasitas 50 persen.

“Pasar tradisional ini, tempat transaksi yang nyaman tetap harus dibuka dengan protokol kesehatan (prokes) dan ketetapan jam operasional,” ujar Ainun.

Dia juga berharap pemerintah dapat memberikan intensif atau penambahan modal usaha untuk pedagang tradisional di tengah kondisi terpuruk ini.

Lihat juga...