Pedagang di Semarang Sambut Baik Kelonggaran Jam Operasional

Editor: Koko Triarko

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, di Semarang, Selasa (31/8/2021). –Foto: Arixc Ardana

SEMARANG – Kabar gembira bagi para pelaku usaha kuliner, toko retail hingga hiburan di kota Semarang, seiring dengan adanya kelonggaran jam operasional. Hal tersebut menyusul turunnya level pemberlakuan pembatasan kegiatan (PPKM ) di kota tersebut.

“Saya sampaikan kepada para sedulur semua, menyusul turunnya level PPKM Kota Semarang, dari awalnya level 4, kemudian turun ke 3, dan pada hari ini, turun ke level 2, maka kita beri kelonggaran pada sektor usaha,” papar Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. di Semarang, Selasa (31/8/2021).

Dijelaskan, kelonggaran tersebut khususnya pada jam operasional usaha. Jika pada level 3 lalu kegiatan usaha seperti pedagang kaki lima (PKL), warung makan, toko kelontong dan lainnya harus tutup pukul 20.00 WIB, kini batas operasional ditambah menjadi pukul 21.00 WIB. Termasukpembukaan gedung bioskop yang ada di sejumlah pusat perbelanjaan di Kota Semarang.

“Silakan mengajukan perizinan untuk beroperasi kembali ke dinas terkait. Penonton nantinya akan kita batasi maksimal 30 persen dari kapasitas tempat duduk,” ucapnya.

Termasuk kapasitas pengunjung pusat perbelanjaan yang dibatasi maksimal 50 persen. “Tentu saja pengunjung yang bisa masuk ke mal ini kita ikuti peraturan dari pemerintah pusat, yakni berusia di atas 12 tahun, di bawah 70 tahun, serta sudah divaksin,” terangnya.

Di lain sisi, pihaknya berharap Kota Semarang juga bisa turun ke level 1. Salah satunya, dengan memperbaiki angka testing dan tracing atau penelusuran terhadap kontak erat pasien Covid-19, yang saat ini dinilai belum maksimal.

“Ini yang menjadi PR kita, temuan kasus baru di Kota Semarang sudah berada di bawah standar nasional, di angka 8,7 persen per 100 ribu penduduk. Sementara, kasus konfirmasi bagi wilayah level 1 harus kurang dari 20 persen per 100 ribu penduduk. Artinya, secara angka kasus, Kota Semarang sudah berada pada level 1,” ucapnya.

Termasuk untuk angka terkonfirmasi positif dirawat di rumah sakit, Kota Semarang berada pada angka 0,8 per 100 ribu penduduk. Sedangkan untuk kasus meninggal di Semarang 0,98.

“Semuanya itu, Kota Semarang sudah berada di level 1, sebab standar level 1 untuk pasien terkonfirmasi kurang dari 5 persen per 100 ribu penduduk. Sementara, angka kematian di bawah 1 persen,”lanjut Hendri, panggilan akrabnya.

Namun, untuk testing dan tracing, masih di atas standar yang ditetapkan, sehingga Kota Semarang masih belum bisa turun ke level 1.

Terlepas dari itu, dengan adanya penurunan level PPKM yang diikuti dengan kelonggaran jam operasional usaha, disambut baik oleh para pelaku usaha.

“Kalau memang sudah ada kelonggaran pembatasan jam operasional, tentu kita sambut baik. Apalagi seperti usaha penyetan ini, umumnya beroperasi dari sore hingga malam hari. Tentu kita senang dengan adanya kelonggaran hingga pukul 21.00 WIB,” papar Mantono, pedagang warung makan penyetan di kawasan Tembalang, Semarang, saat dimintai tanggapannya, Selasa (31/8/2021).

Meski demikian, dirinya berharap kelonggaran jam operasional usaha pada PPKM tersebut, bisa ditambah setidaknya hingga pukul 22.00 WIB.

“Idealnya sampai jam 10 malam. Mudah-mudahan nantinya ada kelonggaran lagi, sehingga sektor usaha, khususnya yang beroperasi di malam hari ini bisa tetap bertahan. Bisa tetap berjualan,” pungkasnya.

Lihat juga...