Pedagang Emas Emperan Masih Eksis Berjualan di Pasar Ciparay

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BANDUNG – Bermodalkan sebuah etalase kotak berukuran kecil, Dayat (57) pedagang emas emperan di Pasar Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, masih setia menanti pelanggan yang ingin menjual emas mereka.

Meski tak selalu mendapatkan pelanggan dalam sehari, namun Dayat mengaku enggan menghentikan usaha yang sudah ditekuninya sejak tahun 2001 tersebut.

“Memang tidak selalu dapat pelanggan, tapi dalam seminggu pasti ada aja, kadang satu, kadang dua, atau bisa lebih, sampai lima pelanggan,” ujar Dayat kepada Cendana News, Selasa (31/8/2021) di lapaknya.

Para pedagang emas emperan seperti Dayat ini melayani jasa jual beli emas yang sudah tidak sempurna lagi, seperti emas tanpa surat, anting yang tidak sepasang, bahkan emas yang sudah patah atau cacat sekali pun.

“Jadi yang penting emas aja, pasti bisa kita beli. Harga belinya macam-macam, tergantung kadar emas dan tingkat kerusakannya. Kita punya hitungannya sendiri,” ungkap Dayat.

Lebih lanjut, Dayat mengaku nantinya emas yang ia beli, dijual ke pengepul emas langganannya. Selanjutnya, emas yang tidak sempurna itu akan diproses kembali sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.

“Sebetulnya tidak semua dijual ke pengepul, ada juga yang dijual langsung ke toko emas, kalau cuma surat-suratnya saja yang tidak ada. Tapi toko emas cuma mau beli dari kita saja, atau yang sudah kenal saja, kalau orang biasa nggak akan dibeli,” tukas Dayat.

Sementara itu, Edah Mardiyah (41), warga Desa Babakan, Ciparay, Kabupaten Bandung mengaku pernah memiliki pengalaman menjual emas ke pedagang emas emperan. Ia mengatakan, terpaksa menjual emas tersebut lantaran suratnya hilang.

“Waktu itu yang saya jual kalung emas. Beli di toko harganya Rp1,5 juta, karena saya lagi butuh uang, akhirnya bawa ke tukang emas emperan itu, cuma laku Rp500 ribu aja,” terang Edah.

Meskipun merasa kecewa dengan harga kalungnya yang merosot, namun Edah mengaku bersyukur karena saat itu emasnya masih bisa terjual.

“Ya mau diapakan, lagi butuh uang, terus yang ada cuma kalung, suratnya tidak ada lagi, ya terpaksa. Tapi saya sih bersyukur aja masih bisa terjual,” pungkas Edah.

Lihat juga...