Pekerja Pariwisata di Sikka Kian Menjerit

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Lesunya sektor pariwisata akibat pandemi Covid-19 membuat pekerja di sektor pariwisata, terutama pramuwisata atau pemandu wisata di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) harus beralih profesi untuk bisa bertahan hidup.

Anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Sikka, NTT, Elisia Digma Dari saat ditemui di Kelurahan Kota Uneng, Maumere, Jumat (30/7/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Saya memilih jadi wirausaha dengan menjual apa saja, termasuk menjual produk secara daring, agar bisa memperoleh pendapatan,” kata Elisia Digma Dari, anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Sikka, NTT saat dihubungi, Minggu (1/8/2021).

Elis sapaannya menyebutkan, segala usaha dilakukan agar bisa membiayai hidup, karena mengandalkan uang tabungan yang disisihkan dari pekerjaan sebagai pemandu wisata suatu saat akan habis.

Dirinya pun menjual aneka produk secara online, termasuk makanan bahkan membuat rujak dari buah-buahan yang diperoleh dari petani di sekitar kompleks perumahannya.

“Saya harus menjadi wirausaha sehingga sementara waktu bergaul dengan pelaku usaha kecil dan menengah agar bisa memperoleh pendapatan. Produk apa saja saya jual agar bisa bertahan hidup,” ungkapnya.

Elis mengaku paket wisata dari luar negeri semuanya dibatalkan agen perjalanan di luar negeri.

Padal kata dia,dalam setahun pramuwisata bisa meraup pendapatan puluhan juta bahkan ratusan juta dari mengantar wisatawan asing ke berbagai destinasi wisata.

“Mau bagaimana lagi, kita tidak tahu sampai kapan pandemi ini berakhir. Kami yang tinggal di kota ini sulit sekali, sehingga harus bekerja apa saja untuk membiayai kebutuhan keluarga,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Yulius Yoman, pramuwisata lainnya yang setiap tahunnya selalu mengantar wisatawan asing berwisata ke beberapa destinasi wisata di Pulau Flores, NTT.

Yulius mengaku karena menetap di desa yang merupakan sentra pertanian padi, dirinya pun terjun menjadi petani dengan menanam padi serta aneka sayuran lainnya untuk dijual.

“Saya juga membuka kios di depan rumah untuk berjualan agar bisa menambah penghasilan meskipun tidak seberapa. Sampai sekarang saya sebagai pramuwisata tidak dapat bantuan dana dari pemerintah,” ucapnya.

Yulius mengaku paket tur tidak ada, sebab penerbangan juga tidak ada, kecuali di Labuan Bajo.

Ia sebutkan, pramuwisata dan sektor pariwisata di Labuan Bajo saja sudah mulai hidup karena ada penerbangan dan ada pemerintah sering membuat event sementara di daerah lain tidak ada.

Kondisi ini kata dia membuat banyak pramuwisata memilih pulang kampung dan menetap di desa terutama yang belum menikah.

“Hampir semua teman-teman pramuwisata di Sikka menganggur. Ada yang pulang kampung dan menjadi petani, usaha kecil-kecilan bahkan ada yang jual mobil dan aset lainnya agar bisa bertahan hidup,” ucapnya.

Lihat juga...