Pemalsuan Surat Vaksin, Polres Karangasem Membekuk 22 Oknum Pembuat dan Pengguna

Konferensi pers pengungkapan kasus pemalsuan surat vaksin COVID-19, di Polres Karangasem, Bali, Senin (30/08/2021) - foto Ant

KARANGASEM – Polres Karangasem, Bali, menangkap 22 orang yang berperan sebagai pembuat dan pengguna, surat vaksin COVID-19 palsu. Surat tersebut dipalsukan, untuk melakukan penyeberangan ke Lombok, NTB.

“Ada empat orang dari mereka mulai melakukan pembuatan surat vaksin palsu untuk para ABK (anak buah kapal) supaya bisa menyeberang dari Pelabuhan Padang Bai ke Pelabuhan Lembar Lombok, karena para ABK belum pernah mendapat vaksin COVID-19,” kata Kapolres Karangasem, AKBP Ricko A. A.Taruna, di Denpasar, Bali, Senin (30/8/2021).

Ke-22 tersangka pelaku pembuat dan pengguna surat vaksin palsu tersebut adalah, I (45), SH (29), YR (45), AH (29), H (32), PA (38), A (21), MF (38), H (22), J (36), AS (17), R (21), S (46), A (23), S (39), WHA (21), JI (21), J (31), J (50), S (36), R (24) dan S (21). Mereka saat ini telah ditahan Polres Karangasem.

Sebelumnya, tersangka I meminta SH untuk menghubungi ABK berinisial J, dan meminta agar mengirimkan foto kartu tanda penduduk (KTP) para ABK yang ada di kapal. Selanjutnya J mengirim 24 foto KTP ABK, ditambah tersangka I, menjadi 25 foto KTP. Pengiriman dilakukan ke SH, yang melanjutkan pengiriman kepada YR.

Setelah itu, YS pergi ke tempat percetakan dan bertemu tersangka AH. YR meminta AH, untuk membuatkan surat vaksin COVID-19 palsu dari surat vaksin yang asli, untuk digunakan para ABK, pulang dari Bali menuju Pulau Lombok, NTB. “Dari tersangka AH lalu membuat surat vaksin COVID-19 palsu dengan cara memindai surat vaksin asli dengan printer lalu hasil scan tersebut diedit menggunakan aplikasi photoshop dan mengganti identitas di surat vaksin atas nama 25 KTP yang diberikan oleh YR,” jelasnya.

Untuk biaya pembuatan surat vaksin COVID-19 itu, YR menyerahkan uang sebesar Rp250 ribu ke tersangka AH. Selanjutnya tersangka I. menerima 25 surat vaksin palsu itu dari YR dan berangkat ke Bali dengan mengendarai bus untuk menjemput pada ABK di Pelabuhan Benoa, Bali. “Sampai di Pelabuhan Benoa, I menawarkan ke para ABK surat vaksin COVID-19 tanpa melalui proses vaksinasi, dengan harga Rp200 ribu per-lembar. Sebanyak 18 orang ABK yang mau menggunakan surat vaksin palsu tersebut. Sedangkan sisanya sebanyak tujuh lembar dibuang oleh SH,” ucapnya.

Saat tiba di Pelabuhan Padangbai, dengan tujuan menyeberang ke Pulau Lombok, petugas satpam di Pos I Padangbai melakukan pengecekan melalui aplikasi PeduliLindungi. Namun, 18 surat vaksin yang dibawa ABK tidak terdaftar secara online dan diduga palsu.

Dari para pelaku diperoleh barang bukti berupa 18 surat vaksin COVID-19 yang diduga palsu, tiga handphone, uang tunai sebesar Rp3,4 juta, satu unit kendaraan bus dengan nomor polisi DK-8774-KK, laptop, printer dan uang tunai sebesar Rp250 ribu, untuk biaya pembuatan atau pencetakan surat vaksin palsu. Para tersangka dikenakan Pasal 263 ayat (1) dan ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) jucto Pasal 55 KUHP tentang dugaan tindak pidana pemalsuan surat. (Ant)

Lihat juga...