Pentingnya Pengelolaan Sampah Sejak Berada di Dapur

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Perlu perubahan paradigma dalam penanganan sampah rumah tangga secara menyeluruh. Mengingat sampah rumah tangga memiliki porsi cukup besar terutama sampah organik basah.

Peneliti Profesional, Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI), Dr. Ir. Darmono Taniwiryono, MSc, menyatakan sumber pencemaran berupa limbah basah ada di sekitar kita, baik darat, sungai maupun laut.

Peneliti Profesional, Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI), Dr. Ir. Darmono Taniwiryono, MSc, menekankan pentingnya pengelolaan sampah sejak di dapur, dalam acara PPBBI, Rabu (25/8/2021) – Foto: Ranny Supusepa

Di darat akan menimbulkan bau busuk dan menjadi sarang organisme penular penyakit. Di sungai akan menimbulkam penyumbatan dan banjir. Dan di laut akan menimpulkan pencemaran plastik serta sampah pantai.

“Permasalahannya tak kunjung berhenti. Di TPA sendiri, risikonya adalah ledakan gas metana dan longsor. Seperti kasus TPA Leuwigajah 2005. Belum lagi masalah lahan yang tiap tahun membutuhkan perluasan dan masalah sosial yang timbul dari masyarakat sekitar TPA.

Karena itu, dibutuhkan upaya untuk menyelesaikan masalah ini secara bersama dengan menjadikan sampah ini menjadi sesuatu yang bermanfaat. Dan menjadikan TPA hanya sebagai tempat sampah yang sama sekali tak bisa dikelola,” kata Darmono dalam acara online yang diikuti Cendana News, Rabu (25/8/2021).

Data menunjukkan, 60 persen dari sampah itu adalah limbah organik dengan sumber utamanya didominasi oleh rumah tangga, pasar tradisional dan perkantoran.

“Kita perlu mengubah paradigma pengelolaan sampah yang lama. Yaitu, tidak menempatkan semua sampah di TPA. Tapi mulai mengurangi dari sumber sampah tersebut,” ucapnya.

Langkahnya adalah mulai dari mereduksi sampah yang ada, menggunakan kembali limbah yang masih bisa digunakan, melakukan komposting, mengubahnya menjadi energi dan yang terakhir, diharapkan dalam jumlah sedikit, baru dikirimkan ke TPA.

“Dampaknya bukan hanya pengurangan jumlah sampah di TPA tapi juga berkurangnya biaya logistik hingga 30 persen. Artinya, biaya berkurang, pemakaian solar berkurang dan biaya pemeliharaan alat pengangkutan juga berkurang. Ditambah, konflik sosial juga akan berkurang dan risiko bencana akibat sampah juga menurun persentasenya,” ucapnya.

Peneliti PPBBI, Haryo Tejo Prakoso, MAgr.Env., menyatakan pengelolaan sampah menjadi efek penting dalam mencapai SDGs.

Peneliti PPBBI, Haryo Tejo Prakoso, MAgr.Env., menjelaskan fungsi kompos yang berasal dari organik rumah tangga untuk menjaga kesuburan tanah, dalam acara PPBBI, Rabu (25/8/2021) – Foto: Ranny Supusepa

“Di mana dalam membangun strong sustainability itu, ekologi menjadi lingkaran terluar, dengan manusia pada lingkaran kedua dan lingkaran terdalam adalah ekonomi. Jadi kalau ekologinya sudah hancur, ya artinya lingkaran yang terdalam juga akan hancur,” kata Haryo, dalam kesempatan yang sama.

Ekologi ini terdiri dari tanah, air dan udara, yang masing-masing memiliki angka kualitas masing-masing.

“Dari beberapa penelitian, terlihat penurunan kesuburan tanah, baik karena pencemaran bahan kimia maupun tindakan yang menghilangkan sumber nutrisi tanah alami. Misalnya, jika panen padi, jeraminya dibakar. Akhirnya tanah jadi tidak punya sumber nutrisi,” ucapnya.

Untuk mengembalikan kesuburan tanah ini, maka yang diperlukan adalah meningkatkan biodiversitas mikroba dalam tanah dengan memasukkan nutrisi.

“Salah satunya, ya kompos dari bahan organik rumah tangga yang dibantu proses pembuatannya menggunakan katalisator yang bisa menjadi dekomposer maupun pupuk hayati,” pungkasnya.

Lihat juga...