Penyimpangan Pengelolaan Keuangan, Kejagung Periksa Tiga Pejabat Perum Perindo

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Leonard Eben Ezer Simanjuntak - foto Ant

JAKARTA – Penyidik Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung RI, Senin (30/8/2021), memeriksa tiga pejabat Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo), terkait dugaan tindak pidana dalam pengelolaan keuangan dan usaha kurun waktu 2016-2019.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung RI, Leonard Eben Ezer Simanjuntak menyebut, ketiga saksi tersebut, A selaku Wakil Kepala Divisi Keuangan Perum Perindo periode 2019, YH selaku Staf Utama Hukum Perum Perindo, dan AB selaku Kepala Divisi Usaha Perdagangan Perum Perindo.”Ketiganya diperiksa terkait dengan pengelolaan keuangan Perum Perindo,” kata Leonard, Senin (30/8/2021).

Sebelumnya, Jampidsus Kejagung RI telah menerbitkan surat perintah penyidikan, dugaan perkara tindak pidana korupsi dalam pengelolaan keuangan dan usaha Perum Perindo tahun 2016-2019. Surat tersebut keluar pada Senin (2/8/2021).

Surat Perintah Penyidikan yang ditandatangani Direktur Penyidikan Jampidus, Supardi, atas nama Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus dengan Nomor : PRINT-25 / F.2 /Fd.2 / 08 / 2021 tanggal 02 Agustus 2021, dikeluarkan untuk melakukan penyidikan dugaan perkara tindak pidana korupsi di Perum Perindo.

Perkara ini ini bermula, di 2017 Perum Perindo menerbitkan MTN (medium term notes) atau utang jangka menengah, sebagai salah satu cara mendapatkan dana dengan cara menjual prospek. Ada pun prospek yang dijual Perum Perindo dalam hal penangkapan ikan, selanjutnya Perum Perindo mendapatkan dana MTN sebesar Rp200 miliar secara bertahap. Di Agustus 2017 sebesar Rp100 miliar dengan return sembilan persen, dibayar per triwulan dan jangka waktu tiga tahun yang jatuh tempo pada Agustus 2020.

Kemudian cair lagi pada Desember 2017 sebesar Rp100 miliar, return 9,5 persen, dibayar per triwulan, jangka waktu tiga tahun, yang jatuh tempo pada Desember 2020. Dari MTN yang diterbitkan di 2017 sebesar Rp200 miliar itu, Perum Perindo menggunakan sebagian besar dananya untuk modal kerja perdagangan. Hal ini bisa dilihat dengan meningkatnya pendapatan perusahaan di 2016, sebesar kurang lebih Rp223 miliar. Meningkat menjadi kurang lebih Rp603 miliar di 2017 dan mencapai kurang lebih Rp1 triliun pada 2018.

“Kontribusi terbesar berasal dari pendapatan perdagangan. Pencapaian dilakukan dengan melibatkan semua unit usaha untuk melakukan perdagangan, sehingga menimbulkan permasalahan kontrol transaksi perdagangan menjadi lemah, dimana masih terjadi transaksi, walau mitra terindikasi macet,” kata Leonard.

Menurut Leonard, kontrol yang lemah dan pemilihan mitra kerja yang tidak hati-hati, menjadikan perdagangan pada saat itu menyebabkan perputaran modal kerjanya melambat dan akhirnya sebagian besar menjadi piutang macet. Yang akhirnya nilai piutang macetnya sebesar Rp181 miliar. (Ant)

Lihat juga...