Petani di Sikka Pilih Jual Beras ke Kupang

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Petani padi sawah di Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, memilih menjual beras kualitas super seperti jenis ciherang dan inpari ke luar wilayah, sebab harga jualnya bisa lebih mahal.

“Saya menjual beras kualitas super ke Kota Kupang, karena harga jualnya lebih bagus,” ungkap Yulius Yoman, petani Desa Magepanda, saat dihubungi, Senin (2/8/2021).

Yulius menyebutkan, beras sebanyak 3 ton lebih miliknya dibawa menggunakan mobil ekspedisi ke Kota Kupang, di mana pihaknya hanya membayar ongkos kirim Rp1.000 per kilogramnya.

Dia mengakui, harga jual di Kota Kupang bisa mencapai Rp11 ribu hingga Rp12 ribu per kilogram, sedangkan di Kabupaten Sikka hanya berkisar Rp9 ribu hingga Rp10 ribu per kilogram.

“Dari pada dijual di Maumere dengan harga Rp9 ribu, lebih baik dijual ke Kota Kupang dengan harga Rp11 ribu per kilogram. Lumayan, meskipun untung Rp1.000 per kilogram bisa dapat uang tambahan Rp3 juta,” ucapnya.

Petani di Desa Magepanda, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, NTT, Yulius Yoman, saat ditemui di lahan sawahnya, Kamis (8/10/2020). –Dok: CDN

Yulius mengakui, harga jual beras giling bisa turun hingga mencapai Rp8 ribu per kilogram bila dijual di pasar tradisional di ibukota Kecamatan Magepanda, setiap hari Rabu.

Saat hari pasar mingguan tersebut, petani menjual dengan harga murah karena membutuhkan uang tunai untuk membiayai kebutuhan keluarga yang serba sulit di masa pandemi Covid-19.

“Banyak yang menjual dengan harga murah, Rp8 ribu per kilogram, karena butuh uang untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Juga untuk membeli pupuk dan pestisida guna menanam padi lagi,” ungkapnya.

Sementara itu, Osias Dosi, petani lainnya mengatakan banyak petani di Kecamatan Magepanda yang masih menerapkan sistem ijon saat membutuhan uang untuk beli pupuk dan pestisida.

Menurut Osias, uang yang dipinjam tersebut dikonversikan ke dalam jumlah gabah kering yang dipanen, meskipun harganya tergolong murah mencapai Rp5 ribu per kilogramnya.

“Petani sering menerapkan sistem ijon bila membutuhkan uang untuk beli pupuk dan pestisida.Meskipun rugi, namun petani tidak ada pilihan karena saat ini sulit sekali mendapatkan uang untuk modal menanam padi,” ungkapnya.

Lihat juga...