Petani di Utara Bekasi Ancam Berhenti Bercocok Tanam

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Petani di wilayah utara Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mengancam akan berhenti bercocok tanam jika saluran air dari bendungan Cikarang Bekasi Laut (CBL) tidak diperbaiki. Sementara itu, saat ini petani masih memperbaiki bendungan CBL secara mandiri, agar bisa mengaliri ribuan hektare sawah di wilayah utara.

“Sudah memasuki hari ke delapan kami dari 16 desa memperbaiki bendungan di pintu air CBL ini. Jika ke depan kembali rusak dan tidak diperbaiki oleh pemerintah, petani sudah sepakat untuk off bercocok tanam,” ungkap Jejen Jaenudin, Koordinator petani dari 16 Desa dari lima Kecamatan wilayah Utara Bekasi, kepada Cendana News, Senin (2/8/2021).

Dikatakan, saat ini petani bersikeras melakukan perbaikan saluran air, karena sudah terlanjur banyak yang telah menanam padi, seperti nandur dan lainnya. Jika tidak diurus saluran di hulu, maka wilayah Sukatani tjuga terdampak tidak akan ada air.

“Petani sudah sepakat batas tahun ini saja melakukan perbaikan saluran secara mandiri, mulai dari di Pintu Air CBL. Karena sudah kepalang, sudah menanam menyebar padi dan ada yang sudah nandur. Ini adalah ikhtiar biar sampai ke Utara Bekasi,” tegas Ustadz Jejen.

Ustadz Jejen, koordinator petani di 16 Desa wilayah Utara Bekasi (kaos kuning pegang cangkul), Senin (2/8/2021). –Foto: M Amin

Tapi, jelasnya, jika setelah upaya manual melakukan bendungan di pintu air CBL ini jebol lagi, baik itu karena disengaja dijebolin atau oleh banjir, maka petani sudah sepakat tidak mau urus kali lagi dan off total bercocok tanam.

Menurutnya jika itu terjadi, dipastikan akan berdampak pada pada lima Kecamatan di wilayah Utara Bekasi terancam rawan pangan. Karena, semuanya tidak akan bisa menanam padi, sehingga akan bisa menimbulkan persoalan baru terkait pangan.

“Biar semua merasakan dampak. Kalau sekarang mungkin mereka bodo nanan (amat-ed) karena ada yang urus modal dengan sendiri karena petani yang butuh. Tapi, petani sudah sepakat perbaikan yang dilakukan ini adalah yang terakhir,” tegasnya.

Pasalnya, lanjut Jejen, kondisi tersebut sudah sejak 2009. Petani ingin mendapatkan jalan keluar terkait saluran air, tapi hasilnya nihil. Sampai sekarang, petani di Utara Bekasi masih kesulitan. Padahal, seluruh kepala desa dalam setiap kesempatan sudah mengadukan persoalan tersebut di setiap rapat dan lainnya di berbagai tingkatan, dan hasilnya masih nol.

“Pemikiran saya yang bodoh ini, pemerintah mau dandani saluran air ke Utara Bekasi sepanjang 9 kilometer itu, tapi uangnya tidak dari pemerintah, uang dari pengembang, karena di utara sekarang banyak perumahannya, tentunya membutuhkan air bersih. Tapi, itu sampai kapan? Sementara petani butuh sekarang,” paparnya, yang menduga pemerintah enggan mengurus di Utara Bekasi karena penghasilan PBB-nya hanya berkisar Rp150an juta.

Ia juga menyampaikan, meskipun sudah delapan hari warga dari 16 Desa di Utara Bekasi turun ke Pintu air CBL, tidak ada satu pun wakil pemerintah yang hadir. Semua pada menjauh, seperti takut dimintai biaya.

Arsan, koordinator petani dari Desa Sukakarta, ditemui di Bendung CBL, mengakui bahwa upaya pembendungan agar air bisa mengalir ke Utara Bekasi dilakukan dengan cara manual mengisi karung dengan bebatuan yang digali, lalu dimasukkan untuk timpakan ke bendungan yang jebol.

“Petani di Utara Bekasi dalam menanam padi masih berpegang pada adat budaya secara turun temurun. Setahun dua kali tanam, dan musimnya telah ditentukan,” ujar Arsan, mengaku, bahwa petani di Utara Bekasi terdiri dari beragam suku.

Dikatakan, bahwa kebutuhan air di Utara Bekasi untuk mengairi sawah petani dibutuhkan 6 kubik air sehari. Sedangkan kapasitas yang ada saat ini hanya 2 kubik, itupun sudah banjir di sepanjang saluran air karena terjadi pendangkalan.

“Solusinya sebenarnya adalah normalisasi sepanjang 9 KM, agar air bisa mencapai areal pertanian. Pendangkalan itu akibat banyak rumah liar potongan ayam, dan kebocoran lainnya di sepanjang saluran air,” ungkapnya.

Saat ini, meskipun air ada, tapi tidak nampung, artinya meskipun diberi dari PJT Kalimalang itu, airnya terbuang ke Kali CBL, ujungnya ke laut.

“Di Utara Bekasi masih ada 70 ribuan hektare lahan pertanian yang menjadi sumber kehidupan warga,” pungkasnya.

Lihat juga...