Petani Purbalingga Panen Padi Varietas Unggul 8,8 Ton per Hektare

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

PURBALINGGA — Kelompok Tani Mas, Desa Plumutan, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga berhasil panen padi kualitas unggul dengan hasil maksimal, yaitu mencapai 8,8 ton per hektare. Padi jenis Inpari Unsoed tersebut merupakan demplot pertanian cerdas iklim atau Climate Smart Agriculture (CSA) program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP).

Kepala Dinas Pertanian (Dinpertan) Kabupaten Purbalingga, Mukodam di Purbalingga, Senin (30/8/2021). (FOTO : Hermiana E.Effendi)

Kepala Dinas Pertanian (Dinpertan) Kabupaten Purbalingga, Mukodam mengatakan, pertanian cerdas iklim dari program SIMURP terbukti memiliki dampak yang positif untuk pertanian. Dimana pertanian cerdas iklim SIMURP mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian.

“Pertanian cerdas iklim memang bertujuan untuk meningkatkan produksi pertanian serta meningkatkan kesejahteraan para petani. Kerena itu, kita terus dorong para petani di Purbalingga untuk belajar dan menerapkan budidaya pertanian yang tahan terhadap perubahan iklim. Hasilnya sudah terbukti, demplot di Desa Pelumutan bisa menghasilkan panen hingga 8,8 ton per hektare,” katanya, Senin (30/8/2021).

Menurut Mukodam, pertanian cerdas iklim juga termasuk upaya untuk mengurangi resiko gagal panen, karena para petani sudah mulai beradaptasi dengan iklam. Konsep pertanina CSA juga untuk meningkatkan ketahanan pangan, beradaptasi dengan perubahan iklim dan meningkatkan produktivitas hasil pertanian.

Sementara itu, Kepala BPP Kecamatan Kemangkon, Naniek Istiqhomah Supendi menjelaskan, demplot CSA di Desa Plumutan menggunakan Varietas Unggul Baru (VUB) yaitu padi jenis Inpari Unsoed 79 Agritan. Untuk dosis pemupukan, petani menggunakan rekomendasi berdasarkan Katam info yaitu berdasarkan kalender tanam terpadu yang memberikan informasi seputar prediksi musim, awal waktu tanam dan sebagainya. Sedangkan untuk penerapan sistem tanam menggunakan jajar legowo 2 : 1.

“Untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman atau OPT yang sebagian besar adalah tikus, kita lakukan secara alami, yaitu menggunakan musuh tikus sebagai pengendali yaitu burung hantu. Kita juga dirikan rumah burung hantu atau Rubuha sebagai sarana perkembangbiakannya,” jelas Naniek.

Menurut Naniek, para petani sudah semakin memahami manfaat menggunakan teknologi budidaya pertanian CSA, terutama sistem tanam jajar legowo dan model pengairan berselang. Semua hal tersebut diterapkan, sehingga hasil panen menjadi lebih maksimal.

Salah satu petani, Slamet mengatakan, jika dibandingkan dengan panen sebelumnnya, saat ini hasil panen jauh lebih bagus. Selain lebih banyak, kualitas padi juga lebih bagus karena merupakan padi varietas unggu.

“Hasilnya lebih banyak dan dari sisi harga juga lebih bagus, karena kualitas unggul, menerapkan sistem pertanian cerdas iklim ternyata banyak sekali keuntungannya,” tuturnya.

Lihat juga...