PPKM di Purwokerto, Nasib Angkutan Kota Terpuruk

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Nasib angkutan kota Purwokerto yang sudah mulai terpinggirkan sejak tahun 2000-an, kini semakin terpuruk setelah pandemi Covid-19 dan terakhir dengan adanya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyaralat (PPKM). Selama satu bulan terakhir, hanya sedikit angkutan kota yang masih bertahan.

Kepala Bidang Angkutan dan Keamanan Dinas Perhubungan (Dinhub) Kabupaten Banyumas, R Hermawan mengatakan, berbagai upaya dilakukan pemilik angkutan kota maupun sopir untuk bisa bertahan. Mulai dari pengurangan setoran, hingga penghapusan jalur atau rute yang harus dilalui.

“Hanya kisaran 20-30 persen saja angkutan kota yang masih bertahan saat ini. Itupun sejak ada penghapusan ketentuan jalur yang disepakati oleh mereka,” jelasnya, Senin (2/8/2021).

Hermawan mengaku, dari Dinhub tidak memberlakukan sanksi keras jika ada angkutan kota yang jalan tidak sesuai rute. Sebab, sejak pandemi, angkutan kota sudah kehilangan mayoritas penumpang mereka, yaitu yang berasal dari kalangan anak-anak sekolah.

“Sebagian besar yang naik angkutan kota adalah anak-anak SMP dan SMA , sedangkan sejak pandemi diberlakukan pembelajaran daring, sehingga mereka tidak berangkat ke sekolah lagi,” tuturnya.

Demikian pula dengan penumpang dari kalangan para pedagang, sejak PPKM jam berdagang di pasar tradisional juga dibatasi. Akibatnya beberapa pedagang juga ada yang memilih untuk tidak berjualan selama PPKM, atau mereka berjualan di rumah atau pun berjualan dengan berkeliling.

Dinhub, lanjutnya, sangat memahami kondisi angkutan kota yang terseok-seok bertahan di tengah pandemi. Terlebih lagi saat PPKM darurat yang berlanjut dengan PPKM level 4 diberlakukan sebulan terakhir, banyaknya jalan yang ditutup menjadi kendala bagi angkutan kota untuk mencari penumpang.

Sementara itu, salah satu sopir angkutan kota, Sito mengatakan, sekarang sebagian angkutan kota menjadi mobil carteran, mereka siap untuk mengantarkan penumpang ke mana pun. Misalnya ada rombongan yang mau ziarah atau menghadiri hajatan ataupun berwisata. Namun, sejak PPKM, semua aktivitas tersebut juga dilarang.

“Sangat sepi penumpang, banyak teman-teman sopir yang berhenti narik karena tidak cukup penghasilannya. Untuk beli bensin, setoran, sisanya sangat sedikit,” tuturnya.

Nasib angkutan kota di Purwokerto ini sebenarnya sudah surut lama, sejak banyak masyarakat yang memiliki sepeda motor. Namun, mereka masih tetap bertahan, karena masih ada anak-anak sekolah.

Beberapa tahun terakhir, di Kota Purwokerto hadir bus buy the service (BTS) yang melayani anak-anak sekolah dengan rute tertentu. Nasib angkutan kota pun kian terpinggirkan, namun sekali lagi mereka tetap bertahan.

Terakhir, hantaman pandemi Covid-19 dan PPKM darurat, semakin membuat angkutan kota kehilangan lahan.

Lihat juga...