Psikolog : Penyintas Covid-19 Berpotensi Jadi Pelupa

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Psikolog dari Rumah Sakit Islam (RSI) Banjarnegara, Rini Indriati SPsi Psi di RSI, Jumat (27/8/2021). (FOTO : Hermiana E.Effendi)

BANJARNEGARA — Pasien Covid-19 yang sedang menjalani isolasi harus mendapat pendampingan yang serius dan rutin, tidak hanya dalam hal pengobatan saja, namun juga pendampingan dari sisi psikologis. Sebab, penyintas Covid-19 sangat berpotensi untuk menjadi pelupa.

Hal tersebut disampaikan psikolog dari Rumah Sakit Islam (RSI) Banjarnegara, Rini Indriati SPsi Psi. Menurutnya, banyak kasus ditemukan para pasien Covid-19 menjadi pelupa dan hal tersebut tidak memandang faktor usia. Namun, karena waktu isolasi yang panjang dan selalu sendirian yang memicu lebih cepat menjadi pelupa.

“Saya banyak menemukan pasien Covid-19 menjadi pelupa selama proses karantina atau isolasi. Hal ini disebabkan rasa sepi yang mempengaruhi kinerja otak, sehingga terkadang mulai berfikir negatif. Karena itu, diperlukan pendampingan selama dan pasca karantina,” terangnya, Jumat (27/8/2021).

Rini Indriati menegaskan, perlu ada psiko edukasi bagi pasien Covid-19 dan perlu pula ditekankan agar mereka tidak merasa sendiri. Selain itu juga harus ditumbuhkan pemikiran positif, sehingga mereka tidak menyalahkan siapapun akibat terkena Covid-19.

“Pasien Covid-19 yang mulai mengalami lupa ini variatif, hampir keseluruhan, tidak memandang usia, jenis kelamin, latar belakang dan sebagainya,” jelasnya.

Menurut Rini Indriati, orang yang menjalani isolasi atau karantina akan mengalami perubahan mental. Diperlukan adanya pendampingan sejak sebelum, saat karantina, dan juga pasca isolasi. Cara paling mudah menghindarkan dari rasa sepi adalah dengan mengajak berkomunikasi.

“Rutin ajak berkomunikasi, ajak berbincang mengenai berbagai hal, supaya lebih terbuka dan terhindar dari stres,” pesannya.

Kepala RSI Banjarnegara, dr Agus Ujianto mengatakan, pihaknya selalu menekankan kepada para perawat untuk mendampingi pasien Covid-19 yang sedang menjalani isolasi dan pengobatan. Hal itu bertujuan untuk menguatkan mental serta membuat pasien tidak merasa kesepian.

“Orang sendirian dalam kondisi sakit dalam waktu yang lama, akan menimbulkan tekanan secara psikologis dan itu berpengaruh terhadap percepatan proses penyembuhan. Kita selalu menekankan untuk ada pendampingan bagi pasien Covid-19,” katanya

Sementara itu, salah satu penyintas Covid-19 di Banjarnegara, Allam mengatakan, ia mengalami perbedaan sebelum terpapar Covid-19 dan sesudahnya.

“Ada beberapa kata yang saya sering lupa saat sedang mengobrol, terkadang juga terbalik balik susunan katanya dan baru sadar salah bicara setelah sekian detik berlalu, jadi memang sangat butuh berkonsultasi dengan psikolog meskipun sudah sembuh,” tuturnya.

Lihat juga...