Purbalingga Dorong Petani Budi Daya Tanaman Pangan Bebas Residu Kimia

Editor: Koko Triarko

Kepala Dinpertan Kabupaten Purbalingga, Mukodam di Padamara, Kabupaten Purbalingga, Senin (2/8/2021). -Foto: Hermiana E. Effendi

PURBALINGGA – Dinas Pertanian (Dinpertan) Kabupaten Purbalingga, terus berupaya mengajak para petani untuk melakukan budi daya tanaman pangan yang bebas residu kimia. Selain untuk menjaga kesuburan tanah, juga untuk meningkatkan kesejahteraan petani, karena hasil panen bernilai ekonomis lebih tinggi.

Kepala Dinpertan Kabupaten Purbalingga, Mukodam, mengatakan untuk menghasilkan tanaman pangan yang bebas residu kimia, tidak hanya dengan menggunakan pupuk organik, tetapi dalam melakukan pembasmian hama atau pengendalian hama terpadu (PHT) juga harus dilakukan dengan nonresidu kimia.

“Pertanian organik atau nonresidu kimia memang kompleks, tetapi hasilnya akan mampu meningkatkan kesejahteraan para petani.  Pada awalnya memang cukup berat dilakukan, tetapi jika sudah terbiasa akan menjadi ringan,” tuturnya, Senin (2/8/2021).

Lebih lanjut Mukodam menjelaskan, Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian pada tahun ini meluncurkan sebuah kegiatan pemberdayaan petani dalam pemasyarakatan PHT atau biasa disebut Program Pengembangan Peningkatan Pangan (P4).

Di seluruh Indonesia, ada 120 kelompok tani yang terlibat dalam tahap pertama dan di Kabupaten Banyumas ada satu kelompok tani yang juga diikutkan, yaitu Poktan Dewi Sri di Desa Karangjambe, Kecamatan Padamara.

“Sebenarnya untuk budi daya tanaman pangan bebas residu ini sudah kita gaungkan lama kepada para petani, namun dengan adanya teman kelompok tani yang turut serta dalam program P4 tersebut, kita sangat berbangga dan mendukung sepenuhnya,” kata Mukodam.

Sementara itu, Kepala BPP Padamara , Endang Fajarini, mengatakan sasaran P4 adalah untuk budi daya tanaman pangan yang sehat agar bebas residu kimia, dengan menggali bahan bakunya dari wilayah setempat, menjaga agroekosistem tanaman, kualitas produk pangan serta kesehatan petani dan konsumen.

“Kita dorong para petani supaya kreatif dalam melakukan  pengelolaan agroekosistem tanaman, dan mengembangkan atau memproduksi agen pengendali hayati (APH),  pestisida hayati dengan memanfaatkan sumber daya lokal,” jelasnya.

Menurutnya, para petani di Purbalingga yang tergabung dalam kelompok tani diharapkan lebih terampil dalam memperbanyak dan membuat APH sendiri secara mandiri, dan bisa mengaplikasikanya di lapangan. Mengingat, APH tersebut jauh lebih ramah terhadap lingkungan dan bisa meminimalisir penggunaan pestisida kimia.

Ada empat tahapan dalam kegiatan P4 yang dilaksanakan di Desa Karangjambe, yaitu mulai dari tahap eksplorasi di pertanaman padi, yaitu mengambil sampel serangga yang diduga terinfeksi agen pengendali hayati seperti, tricoderma, metharizium dan lainnya.

Kemudian memperbanyakan hasil eksplorasi yang meliputi  perbanyakan tricoderma, metharizium dan lainnya, mengaplikasikan APH dan melakukan monitoring serta evaluasi sesudah aplikasi APH.

Lihat juga...