Rade, Pemuda Kreatif di Sikka yang Enggan Mengalah pada Pandemi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Selain memproduksi lampu hias paralon, seorang pemuda wirausaha memanfaatkan waktu luang untuk memproduksi aneka pot bunga di sela-sela waktu luang menjaga kios sembakonya.

“Kalau buat pot bunga saya sudah jalani dua tahun, sementara buat lampu hias dari bahan paralon baru tiga bulan ini,” sebut Nikodemus Wulfram Lowo, perajin di Kelurahan Wolomarang, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT saat ditemui di tempat usahanya, Selasa (24/8/2021).

Rade atau Niko sapaannya mengakui, dalam sehari dirinya bisa menjual pot bunga dan tempat meletakkan pot bunga yang dibuat dari berbagai bahan bekas sebanyak tiga buah.

Ia katakan, harga pot bunga berukuran kecil Rp25 ribu dan ukuran besar bisa mencapai Rp250 ribu per buahnya.

Diakuinya, untuk tempat meletakkan pot dan aneka barang lainnya berukuran besar dalam seminggu bisa dijual dua unit.

“Lumayan untuk menambah penghasilan di saat Covid-19, dimana pendapatan dari usaha kios sembako saya sedang sepi. Barang bekas saya campur dengan semen lalu cor menggunakan mal atau cetakan,” ungkapnya.

Rade mengakui, cetakan dibuat sendiri menggunakan ember bekas dan kadang dirinya juga langsung menanam bunga di dalam pot-pot tersebut.

Ia mengaku lumayan mendapatkan penghasilan dari usaha sampingan memanfaatkan keahlian yang dimilikinya.

Sementara untuk membuat lampu hias dari pipa paralon atau PVC dirinya pun tidak kesulitan menjual dan setiap hari selalu saja ada pembeli.

“Banyak pembeli yang awalnya memesan untuk dipergunakan sendiri dan mereka akhirnya mencari pembeli lalu memesan ke saya. Mereka juga membantu menjual produk saya,” ucapnya.

Aneka pot bunga dari bahan bekas yang dipajang di kios depan SD Wailiti, Kelurahan Wolomarang, Kabupaten Sikka, NTT, saat disaksikan, Selasa (24/8/2021). Foto : Ebed de Rosary

Rade mengakui, jarang sekali di Flores maupun NTT yang mengerjakan kerajinan lampu hias paralon, kecuali di Pulau Jawa.

Sebuah lampu hias paralon sebutnya, memiliki tinggi 30 sentimeter dan diameter pipa 4 inch yang di dalamnya dilengkapi dengan lampu aneka warna, sesuai pesanan atau keinginan.

“Ada yang memesan berukuran lebih tinggi seperti tulisan kaligrafi dan ayat-ayat kursi. Memang harganya lebih mahal karena proses pembuatannya rumit,” ujarnya.

Dirinya berpesan kepada anak-anak muda di Kabupaten Sikka maupun NTT untuk terus berkarya memanfaatkan bakat dan keahlian yang dimiliki.

Pesan dia, jangan takut untuk memulai sebuah usaha dan meraih sukses serta mulailah dari apa yang dimiliki, mulai dari usaha kecil-kecilan hingga suatu saat meraih sukses.

“Jangan takut untuk memulai usaha meskipun hanya kecil-kecilan di rumah. Bila kita rajin dan tekun, lama kelamaan akan menjadi besar dan bisa mendatangkan keuntungan yang besar,” ucapnya.

Salah seorang wirausaha di Kota Maumere, Elisia Digma Dari mengakui, selama masa pandemi Covid-19 memang sebagai wirausaha tidak bisa hanya mengandalkan satu jenis usaha.

Elis sapaannya menyebutkan, harus berani membuat terobosan dan membaca peluang agar bisa memperoleh pendapatan meskipun tidak seberapa asal rutin.

Dia mengaku harus menekuni berbagai usaha penjualan produk agar bisa memperoleh pendapatan yang lumayan.

“Saya harus berani membuat terobosan usaha setelah memutuskan terjun berwirausaha setelah kehilangan pekerjaan sebagai pemandu wisata akibat pandemi Covid-19,” pungkasnya.

Lihat juga...