Rahasia Ibu

CERPEN RISEN DHAWUH ABDULLAH

SEPENINGGAL ayah, ibu lebih banyak menghabiskan waktu di depan mesin jahit. Saking seringnya ibu begitu, benda itu seperti menjadi pengganti ayah.

Ada yang berubah dari hari-hari ibu bukan tanpa alasan. Semenjak ayah pergi meninggalkan kami berdua, orderan jahit permak seperti arus sungai di musim penghujan.

Hampir setiap hari ada orang yang datang ke rumah—jumlah orang yang datang tiap harinya tentu saja berbeda-beda. Tidak hanya aku, ibu juga tidak habis pikir dengan apa yang terjadi.

Apakah ini yang dinamakan Tuhan Maha Kuasa? Padahal semasa ayah masih ada, orderan jahit permak tidak selaris sekarang.

Sudah empat tahun ini ibu membuka jasa jahit permak atau sejak aku menginjak kelas enam sekolah dasar. Sebelum ibu membuka jasa jahit permak, aku masih ingat, saat itu beberapa kali aku meminta uang jajan kepada ibu dan ibu tidak pernah memberiku uang.

Lauk di meja makan juga hanya tempe goreng kalau tidak telur dadar ditemani sambal—hampir setiap hari lauk ini ada di meja makan. Ibu sering cekcok dengan ayah. Aku pasti menangis saat ibu dan ayah bertengkar.

Ya, ibu membuka jasa jahit permak dilatarbelakangi masalah ekonomi. Mesin jahit yang ada hingga saat ini merupakan hasil dari penjualan perhiasan milik ibu. Ayah hanya seorang tukang bangunan.

Kebutuhan semakin hari yang semakin besar, tidak bisa tertutupi oleh penghasilan ayah. Ibu pernah bercerita kepadaku, pernah hampir putus asa karena sepi orderan. Hampir saja ibu menutup usahanya.

“Tapi kalau tutup, ibu mau cari uang dari mana? Jualan makanan? Ibu tidak pandai meracik bumbu, makanan ibu tidak seenak yang dijual orang-orang. Mau kembali jadi buruh di pabrik pakaian? Itu tidak mungkin, telinga ibu sudah rusak gara-gara suara mesin,” ucap ibu kala itu.

Sewaktu masih gadis, ibu memang mempunyai pengalaman di pabrik pakaian. Maka dari itu ia sedikit-sedikit tahu tetek bengek tentang kain—mulai dari cara memotong hingga ukuran standar yang biasanya digunakan untuk pakaian.

Masuk akal juga bila pada akhirnya ibu berani membuka jasa jahit permak. Bila ada orang yang menggunakan jasa ibu, tentu ibu selalu ngarep-ngarep  (berharap) kembali kedatangannya.

Apalagi jika finansial menipis. Ini merupakan hal yang lumrah. Ayah sering menyuruhku untuk mengantarkan pakaian yang dipermakkan kepada ibu untuk pemiliknya, apabila keadaan benar-benar terdesak, dan yang menggunakan jasa ibu hanyalah tetangga sendiri.

Pada awalnya aku berusaha tidak mau menuruti perintah ayah karena malu. Namun, bukan malu karena hanya menerima uang dari pemakai jasa yang tidak seberapa. Aku malu berhadapan dengan orang-orang.

Maka akibat sikapku, aku menjadi dibentak ayah. Aku pernah dibilang anak yang tidak mau berbakti. Pernah juga dikatai anak yang tidak tahu balas budi. Pernah juga sampai ditampar.

Semua itu hanya gara-gara aku berusaha tidak mau mengantarkan pakaian. Bentakan ayah memang dahsyat. Di telingaku bentakan itu lebih dahsyat daripada suara guntur.

Ayah kalau sudah marah memang mengerikan. Bila teringat masa itu, terkadang aku menyesal, mengapa malah tidak langsung menuruti saja perintah ayah, kalau pada akhirnya aku juga keluar rumah menenteng tas plastik yang berisi pakaian.

Sekarang aku baru bisa merasakan manfaatnya akan apa yang ayah lakukan. Aku mulai terbiasa menghadapi orang.

Ibu yang sebenarnya tidak suka dengan cara ayah mengembalikan pakaian yang dipermak kembali ke pemiliknya. Setelah ayah tiada, ibu tidak pernah menyuruhku untuk mengantarkan pakaian kepada pemiliknya. Akulah yang malah sering menawarkan diri.

“Mengapa ibu tidak suka dengan cara ayahmu?” tanyanya suatu malam di ruang tamu—ruangan itu merangkap fungsi juga sebagai ruang ibu menjahit. Bisa dipastikan kalau ibu sedang di ruang tamu, berarti ia sedang menjahit.

Aku mengalihkan pandangan ke ibu sesaat dan menggelengkan kepala, kemudian mata ini kembali tertuju pada lembar buku pelajaran.

“Cara ayahmu mempunyai kesan menodong. Sekarang coba bayangkan, bagaimana kalau yang punya pakaian belum punya uang untuk membayar? Kita juga bukan yang jadi tidak enak?” kata ibu, sembari kakinya sibuk menggenjot mesin jahit—mesin jahit ibu tidak menggunakan dinamo.

“Oleh sebab itu ibu tidak pernah menyuruhmu mengembalikan pakaian. Kalau belum bisa bayar, malah bisa jadi beban kita.”

Beberapa minggu terakhir aku sudah tidak pernah menanyakan kepada ibu, apakah perlu kuantar atau tidak, apabila jahitan permak milik tetangga sudah selesai.

Sebelum aku memutuskan berhenti bertanya, aku sempat dimarahi ibu karena nekad mengantarkan pakaian yang sudah jadi. Pada hari itu aku mengantarkan pakaian kepada Bu Sum, tetangga yang berjarak empat rumah dari rumahku.

Uang ibu tinggal lima ribu rupiah—duit ibu terkuras untuk nyumbang di tiga tempat, bayar sekolah, dan dipinjam tetangga. Sedangkan ibu hanya punya beras dan bumbu-bumbu.

Aku memikirkan esok hari. Bukan aku takut tidak sarapan. Bukan aku takut tidak ada uang saku. Pikiranku pasti tertuju di rumah saat aku sudah di sekolah. Memikirkan ibu makan apa—walaupun mungkin ibu lebih tahu apa yang harus ia lakukan.

“Kemarin ibu sudah bilang kan? Kalau janjiannya besok pagi, bukan malah hari ini kamu antar! Ngisin-ngisini tenan kok koe ki! (Memalukan sekali kamu itu).”

Pagi hari berikutnya ibu kembali mengoceh masalah aku mengantarkan pakaian. Saat Bu Sum lewat, pulang dari warung, ibu sampai menyampaikan permohonan maaf.

Ah, saat itu aku menganggap ibu terlalu berlebihan. Pada nyatanya Bu Sum malah berterima kasih kepada ibu: pakaian yang dipermakkan selesai kurang dari waktu kesepakatan.

Baca Juga

Tiga hari terakhir orang yang datang ke rumah kuhitung-hitung mencapai lima belas orang. Jelas ini merupakan jumlah yang banyak bila melihat kurun waktu yang hanya tiga hari lamanya.

Ibu curhat kepadaku kalau kemarin ada tetangga yang bersuara, menuduh kalau ibu memelihara sesuatu sehingga usaha ibu laris.

Sebelum ibu curhat, sebenarnya tuduhan itu sudah ada begitu ayah tiada. Aku sendiri juga merasa aneh dengan perubahan ini. Apakah mungkin ayah membawa kesialan bagi usaha ibu?

Mungkin ada tetangga yang mengira ibu memendam keinginan sejak lama kalau ia ingin sekali memelihara makhluk halus supaya usahanya lancar, karena ayah melarang, sehingga saat ayah sudah meninggal ibu merealisasikan keinginan. Namun, ini hanya pikiranku saja, hanya sebuah kemungkinan saja.

Kusuruh ibu untuk tidak mempedulikan suara-suara tetangga yang tidak mengenakkan hati. Jika itu dipikirkan hanya menambah beban di kepala.

Mereka yang bersuara hanya iri saja terhadap apa yang telah dicapai ibu, kataku dalam hati. Sampai sekarang, usaha ibu masih laris. Aku menganggapnya ini merupakan sebuah anugerah besar dari Tuhan—apabila kalian juga bertanya-tanya kira-kira apa yang membuat usaha ibu menjadi laris, aku sendiri juga tidak punya jawabannya.

Hingga pada suatu hari, ibu seperti termakan oleh omongannya sendiri. Ibu pernah berucap kalau ia tidak akan pernah menyuruhku untuk mengantarkan pakaian. Ibu melakukannya untuk menjaga dari hal yang tidak mengenakkan diri sendiri.

“Mengapa ibu tiba-tiba berubah? Dulu ibu begitu keras menentang,” ujarku heran. Aku penasaran sekali apa yang menjadikan ibu berubah. “Ada apa, Bu?”

“Sudah tidak usah banyak tanya, antarkan saja pakaian ini ke rumah baru yang ada di depan gang masuk kampung kita,” perintah ibu.

Rasa penasaranku semakin membuncah manakala ibu tidak menyuruhku mengantarkan pakaian-pakaian milik orang lain. Di sini aku menganggap ibu telah teledor, kentara sekali ibu menyembunyikan sesuatu di balik perintahnya kepadaku.

Setiap aku menginginkan jawaban dari ibu, ada kesan ingin menghindar darinya. Dalam hal ini, aku diuntungkan, ibu bukanlah orang yang pandai menyembunyikan masalah.

Ancamanku tidak mau mengantarkan pakaian bila ibu tidak memberitahu, tidak mampu membuka mulutnya. Ibu lebih memilih mengalah.

Aku semakin penasaran. Tahu-tahu hari berikutnya, pakaian yang sejatinya harus kuantar hari kemarin sudah tidak ada di ruang tamu. Entah kapan ibu mengantarkannya, aku tidak tahu.

Aku sudah berupaya untuk mencari tahu kapan ibu mengantar pakaian—sejak aku tidak mau mengantarkan—tapi aku selalu mengalami kegagalan dalam upayaku menemukan jawabannya. Ibu lihai sekali bermain dalam persoalan ini.

Pada suatu ketika ibu kembali menyuruhku. Kali ini wajah ibu mengiba.

“Selama ibu belum memberitahuku, aku tidak akan pernah mau mengantarkannya,” kataku dengan tegas.

Aku merasakan, ibu hendak mengatakan sesuatu, hanya saja kata-kata itu seperti tertahan di dalam mulut. Kemudian ibu berjanji kepadaku, janji itu berhubungan dengan jawaban yang sedang kucari-cari.

“Sekarang antarkanlah pakaian ini.”

Aku pun akhirnya berangkat, janji ibu mampu menyihirku untuk mematuhinya. Sampai di tujuan, pintu rumah tertutup rapat. Aku mengetuknya.

Pintu terbuka dengan perlahan dari dalam. Seorang lelaki berdiri. Ia tersenyum kepadaku. Lelaki itu bukan orang yang biasanya kutemui.

Aku biasanya berhadapan dengan perempuan setiap kali aku mengembalikan pakaian—kata ibu kalau yang menemui perempuan berarti pembantu si tuan rumah.

Mendadak aku menjadi gugup, padahal lelaki itu hanya menyambutku dengan penuh keramahan. Sorot mata itu? Aku seperti pernah melihatnya. Di mata siapa sorot mata itu ada? Otakku bekerja, aku tidak mendapatkan apa yang kuinginkan.

Saat aku pulang, aku berlari. Aku begitu penasaran dengan sorot mata itu. Aku ingin segera melihat di rumah. Dengan napas ngos-ngosan, aku berdiri di depan cermin, tampak diriku sendiri yang penuh keringat.

Sorot mata itu? Jantungku berdegup kencang. Aku seperti merasa telah menemukan jawabannya. Apakah benar?

Seketika aku ingat dengan janji ibu. Mungkinkah ibu pernah menikah dengan lelaki lain, selain ayah? ***

Jejak Imaji, 2021

Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Buku Budaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...