Sapi Produktif Poknak Kaliberot Bertambah Berkat Pemeriksaan Rutin

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan dan pengobatan rutin, sejumlah sapi Kelompok Ternak Ngudi Rejeki di dusun Kaliberot, Argomulyo, Sedayu, Bantul, yang sebelumnya sulit bunting, kini telah mulai bunting. 

Hal itu menjadi kabar gembira bagi para peternak yang tergabung dalam kelompok binaan Yayasan Damandiri, melalui Koperasi Sahabat Damandiri Sejahtera Argomulyo tersebut.

Ketua Kelompok Ternak Ngudi Rejeki, Rakimin, menyebut dari total 13 ekor sapi, sebelumnya ada 5 ekor sapi yang diketahui tidak bisa bunting, meski telah dipelihara sejak 4 tahun terakhir. Namun setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan dan pengobatan secara rutin, jumlah sapi yang mengalami masalah reproduksi itu kini makin berkurang.

“Sebelumnya ada 5 ekor sapi yang belum bisa bunting. Lalu, jumlah itu berkurang menjadi 3 ekor. Dan, terakhir kemarin hanya tinggal 2 ekor, karena sapi lainnya telah mulai bunting,” katanya, belum lama ini.

Keberhasilan kebuntingan sejumlah ternak ini bisa terjadi, tak lepas karena kelompok ternak Ngudi Rejeki rutin mengikuti kegiatan Posyandu Hewan yang dilaksanakan dinas peternakan setempat, untuk memastikan kesehatan seluruh ternak.

Posyandu hewan ternak ini rutin dilakukan setiap 3-4 bulan sekali di kandang kelompok ternak Ngudi Rejeki dusun Kaliberot, dengan sejumlah agenda, di antaranya pemeriksaan atau pengecekan kesehatan rutin, pemberian obat atau vitamin, hingga pelayanan inseminasi buatan bagi indukan betina.

“Biasanya kita akan minta petugas puskeswan untuk datang ke kandang kelompok sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Biasanya 3-4 bulan sekali. Namun, tidak menutup kemungkinan  jika ada hewan yang tiba-tiba sakit atau memerlukan penanganan, kita juga akan langsung minta petugas untuk datang,” katanya.

Setiap kali mengikuti kegiatan Posyandu Hewan Ternak, para peternak bahkan rela bergotong-royong atau patungan uang untuk membayar penyelenggaraan kegiatan tersebut. Baik untuk membayar obat, vitamin ataupun biaya inseminasi buatan.

“Sekali posyandu itu biasanya kita habis Rp350ribu. Jumlah itu tidak termasuk IB. Karena kalau IB langsung ke masing-masing peternak. Tergantung mana peternak yang memiliki indukan betina siap kawin. Untuk IB ini juga mendapat subsidi dari pemerintah, sehingga bisa murah, bahkan gratis,” ungkapnya.

Sementara itu menyangkut 2 ekor sapi yang masih belum bisa bunting, Rakimin mengaku sudah melakukan evaluasi dan berdiskusi dengan para peternak maupun Koperasi Sahabat Damandiri Sejahtera Argomulyo. Rencananya, kedua sapi tersebut akan ditukarkan dengan indukan sapi yang baru, sehingga bisa produktif.

“Untuk dua sapi yang belum bisa bunting, akan kita ganti dengan indukan baru. Saat ini kita sedang mencari indukan yang sesuai,” ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, sejak ditetapkan sebagai desa binaan pada 2017, Yayasan Damandiri melakukan upaya pemberdayaan di sektor peternakan dengan mendirikan unit usaha demplot ternak sapi di dusun Kaliberot.

Melalui program Desa Cerdas Mandiri Lestari (DCML), Yayasan Damandiri memberikan bantuan modal berupa 15 ekor sapi betina untuk dipelihara. Dari 15 ekor sapi bantuan tersebut, pada perkembangannya ada sejumlah sapi yang mati, sehingga tinggal 13 ekor. Meski begitu, hingga saat ini tercatat sudah ada sekitar 7 ekor sapi yang mampu produktif dengan menghasilkan 9 ekor anakan.

Beberapa ekor sapi, bahkan tercatat sudah menghasilkan anakan hingga 2-3 kali. Tercatat 6 ekor anakan sapi di antaranya telah dijual para peternak, dengan persentase pembagian hasil 70-80 persen untuk peternak, sementara 20-30 persen untuk Koperasi.

Lihat juga...