Selama PPKM, NLP Tabur Puja Cilacap Capai Enam Persen

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Manager Tabur Puja Wanareja, Sudaryanto di kantornya, Selasa (31/8/2021). (FOTO : Hermiana E.Effendi)

CILACAP — Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PKKM) darurat sangat berdampak terhadap usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap. Program Tabur Puja Yayasan Damandiri yang banyak menyalurkan bantuan kredit modal untuk kalangan UMKM juga terdampak, dengan meningkatnya Non Permorming Loan (NPL) hingga 6 persen.

Manager Tabur Puja Wanareja, Sudaryanto mengatakan, saat ini posisi NPL atau kredit macet di tabur Puja merupakan posisi tertinggi. Nasabah yang macet hampir merata, baik dari kalangan para pedagang hingga petani.

“Sekarang hasil pertanian harganya juga anjlok, sehingga banyak juga nasabah dari kalangan petani yang macet. Kalau dari kalangan pedagang, sebagian besar yang macet merupakan pedagang kecil yang biasa berjualan di sekolah-sekolah, namun saat ini juga sudah melebar kepada para pedagang di pasar tradisional,” jelasnya, Selasa (31/8/2021).

Para pedagang di sekolah banyak yang kehilangan mata pencaharian, karena sekolah-sekolah tutup. Sedangkan untuk pedagang di pasar tradisional, juga terdampak akibat adanya pembatasan jam operasional pasar.

Meskipun begitu, pihak Yayasan Damandiri tetap berkomitmen untuk memberikan bantuan kredit modal usaha, mengingat dalam kondisi sekarang banyak pelaku UMKM yang terdampak. Pencairan kredit bantuan modal usaha melalui program Tabur Puja tetap dilakukan. Hanya saja, ada sedikit pembatasan, baik untuk jumlah nasabah maupun jumlah kredit yang dicairkan.

“Untuk pencairan Tabur Puja tetap berjalan, hanya dibatasi, kita lebih selektif dalam pencairan. Saat ini rata-rata pencairan hanya 50 orang per bulan, dengan nilai kredit total kisaran Rp100 juta per bulan,” jelas Sudaryanto.

Terkait kredit macet tersebut, Sudaryanto mengatakan, pihaknya terus berupaya untuk melakukan pendekatan kepada nasabah yang menunggak pembayaran angsuran, antara lain melalui para pengurus Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) yang tersebar pada tiap desa.

“Batas aman NPL itu 5 persen, jadi posisi kita sekarang sudah sangat tinggi, namun pihak Yayasan Damandiri memaklumi dengan kondisi sekarang ini dan tetap memperbolehkan pencairan kredit, karena tambahan modal usaha memang sangat dibutuhkan para pelaku UMKM saat ini,” tuturnya.

Salah satu pengurus Posdaya Lestari di Desa Limbangan, Kecamatan Wanareja, Darti Lestari mengatakan, ia beberapa kali mendatangi langusng nasabah yang macet dalam pembayaran angsuran dan kondisi mereka memang sangat terdampak pandemi Covid-19.

Menurutnya, banyak pedagang kecil yang tidak bisa lagi berjualan dan pada akhirnya modal usahanya habis untuk menutup keperluan hidup sehari-hari.

“Karena itu, penyaluran bantuan kredit modal usaha yang terus dilakukan Yayasan Damandiri memang sangat membatu, supaya pelaku UMKM bisa bangkit kembali memulai usahanya,” ucapnya.

Lihat juga...