Selama Tiga Tahun Angka Stunting di Sikka Terus Turun

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Angka stunting di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) selama tiga tahun terakhir mengalami penurunan berkat berbagai usaha yang dilakukan Dinas Kesehatan bekerjasama dengan pemerintah desa, kelurahan dan kecamatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, NTT, Petrus Herlemus saat ditemui di kantornya di Jalan El Tari, Maumere, Jumat (27/8/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Selama tiga tahun terakhir memang angka stunting menurun,” sebut Kepala Dinas Kesehatan, Kabupaten Sikka, NTT, Petrus Herlemus saat ditemui di kantornya di Jalan El Tari, Maumere, Jumat (27/8/2021).

Petrus memaparkan, 018 sebanyak 5.805 anak atau 36 persen dan 2019 turun menjadi 25,1 persen atau tersisa 4.164 anak.

Lanjutnya, 2020 turun menjadi 19,6 persen atau tersisa 4.010 anak dan per Februari 2021 turun menjadi 18,9 persen.

Ia sebutkan, angka stunting cenderung menurun sejak tahun 2018 namun ada beberapa kecamatan yang angkanya naik turun.

“Memang di tengah pandemi Covid-19, semua Puskesmas, desa dan kecamatan bergerak mengatasinya,” ujarnya.

Petrus menyebutkan, Dinas Kesehatan melakukan advokasi ke Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) untuk mengalokasikan dana desa guna mengatasi stunting.

Sambungnya, Dinas Kesehatan memberikan komposisi menu seimbang yang dirancang di rumah stunting.

Hal ini kata dia, sudah diaplikasikan di desa dan kelurahan dengan dominasi menunya telur ayam.

“Asupan menunya telur ayam kampung jauh lebih baik, termasuk protein penunjang seperti daging ayam kampung, ikan dan daging lainnya,” tuturnya.

Kepala Desa Wolomapa, Kecamatan Hewokloang, Marinus Moa mengatakan, pemerintah desa mempunyai banyak uang, tapi tidak berarti apabila anak-anak di wilayah tersebut sumber daya manusianya menurun karena mengalami kekurangan gizi.

Marinus sebutkan, untuk penanganan stunting 2021, hasil pengukuran terbaru ada penambahan lima orang lagi dan pemerintah desa pun tidak mengetahui apa masalahnya.

“Penanganan stunting di desa kami pada 2021 untuk 13 orang anak sehingga saat ini kami belum berbangga. Masih ada delapan anak sisa dari penanganan tahun 2020 yang mengalami stunting,” ujarnya.

Marinus bingung mungkin juga karena pengaruh air bersih ataukah karena sudah lama mengalaminya dan baru diketahui setelah ada programnya, sehingga ada penambahan.

Dia menyarankan, perlu ada penanganan secara menyeluruh, bukan saja pemberian makanan tambahan, tapi bisa juga masalah air bersih dan ketersediaan MCK serta masalah lainnya.

“Perlu diteliti kenapa setelah ada intervensi, masih ada lagi anak yang mengalami stunting. Dinas Kesehatan perlu meneliti, mungkin ada penyebab lainnya,” harapnya.

Lihat juga...