Survei Lingkungan Belajar Harus Merujuk Tujuan Pendidikan

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Upaya untuk menciptakan lingkungan belajar dalam menghasilkan generasi yang berkarakter Pancasila, harusnya dilakukan dengan menitikberatkan pada sekolah sebagai atmosfer akademik dan didasarkan pada suatu kajian komprehensif pada nilai-nilai Pancasila itu sendiri.

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, Silverius Yoseph Soeharso atau yang akrab dipanggil Sonny, menyatakan survei lingkungan belajar sebagai bagian dari asesmen nasional harusnya merujuk pada tujuan pendidikan yang ingin menciptakan generasi muda yang berprofil Pancasila.

“Kalau yang menjadi standar adalah profil pelajar Pancasila, artinya asesmennya harus menilai iman, takwa, kreatif, gotong royong, kritis, berkebhinekaan tunggal dan mandiri. Walaupun sebenarnya penetapan ini pun masih dipertanyakan,” kata Sonny saat dihubungi Cendana News, Kamis (26/8/2021).

Sehingga, ia menyatakan, jika melihat asesmen nasional yang akan diterapkan maka timbul pertanyaan tentang standar dari item yang muncul dalam asesmen nasional tersebut.

“Esensi pendidikan adalah untuk membangun karakter. Sehingga sebelum membangun integritas peserta didik, yang harus dilakukan pemerintah adalah membangun integritas guru atau para pendidik sebagai penyelenggara sekolah atau secara psikologi ilmiah, unit analisisnya adalah sekolah sebagai atmosfir akademik,” ujarnya.

Hal ini tidak terlihat dalam urutan pernyataan yang muncul dalam survei lingkungan belajar dalam rangkaian asesmen nasional, yang ditunjukkan dengan mewakili subjek dengan saya.

“Kalau kata saya itu mewakili individu orang. Bukan unit sekolah. Kalau unit sekolah, harusnya subjeknya adalah di sekolah ini yang diikuti pernyataan selanjutnya. Dan untuk pertanyaan presiden laki-laki atau perempuan, kaitannya dengan akademik atmosfer itu apa?,” ungkapnya.

Ia menyatakan perlu manual psikometri dalam mewujudkan NSPK (Norma – Standar – Prosedur – Kriteria) dan ditambah dengan tujuan dari pelaksanaan AN.

“Dengan begitu, ada hasil yang harus dijadikan parameter pengelompokan berdasarkan standar yang ditetapkan. Apakah jika, jawabannya semua tidak setuju, artinya sekolah tersebut masuk dalam kategori apa? ,” ungkapnya lebih lanjut.

Pada saat membahas standar penilaian, maka perlu ditentukan baseline-nya dan require base-nya.

“Artinya ada kondisi saat ini lalu apa yang akan dicapai. Lalu apa intervensi yang harus dilakukan untuk meningkatkan. Ini harus ada manual atau naskah akademiknya dahulu. Jadi, sebelumnya harus ditetapkan dulu lingkungan belajar yang bagaimana yang diinginkan pemerintah,” tutur Sonny.

Ia menyebutkan permasalahan isu yang terjadi pada saat ini tak pernah muncul di masa lalu.

“Waktu zaman Pak Harto, mau panglima TNI itu Katolik tidak pernah ada masalah. Atau pejabat non muslim itu tidak masalah. Sekarang jadi masalah. Apalagi survei BPIP lalu yang menyoroti tentang bagaimana pandangan Islam tentang penghormatan pada bendera, itu kan mengusik saudara kita yang muslim. Harusnya semua pihak sensitif agar tak menjadi bola liar,” tuturnya.

Sonny menegaskan bahwa untuk menciptakan individu yang memiliki karakter Pancasila, yang perlu dilakukan adalah menciptakan lingkungan yang menghadirkan Pancasila itu dalam kehidupan akademik.

“Tidak usah banyak retorika. Pertanyaannya mudah. Apakah bisa menciptakan lingkungan akademik yang Pancasila. Contohnya, apa yang dilakukan Universitas Pancasila. Kami menghadirkan lima rumah ibadah dalam lingkungan kampus untuk memastikan bahwa semua agama terakomodir. Ini atmosfir Pancasila, bukan hanya sekedar omongan. Tapi berupaya menciptakan aura kebhinekatunggalikaan dalam lingkup pendidikan,” tandasnya.

Lihat juga...