Tutut Soeharto Berharap Generasi Muda Mau Melestarikan Budaya Leluhur Tedhak Siten

Editor: Maha Deva

JAKARTA – Putri pertama Presiden RI ke 2, Jendral Besar HM Soeharto, yang bernama Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut Soeharto, berharap generasi muda dapat melestarikan budaya Jawa warisan leluhur, yaitu tedhak siten.

 

Di dalam keluarga besar Cendana, upacara adat ini kerap dilakukan, untuk merayakan usia 7 bulan anak . Biasanya digelar untuk anak yang mulai bisa merangkak. Setiap kelahiran cucunya, Tutut Soeharto juga tak pernah absen untuk menggelar upacara tedhak siten.

 

Kini, kebahagiaan menyelimutin  keluarga besar Cendana tersebut, dengan menggelar upacara adat tersebut. Putri pertama Presiden RI ke 2, Tutut Soeharto dan suami Indra Rukmana, baru saja menggelar acara adat Jawa tedhak siten, untuk cucu-nya yang ke-12, bernama Aryandra Athallah Sulistiyo Rukmana.

 

Aryandra Athallah Sulistiyo Rukmana, yang lahir pada Senin Wage, 18 Desember 2020, merupakan putra kedua dari pasangan Ajie Sulistiyo Dwi Putra Maryulis (Adjie) dan Danvy Sekartaji Indri Haryanti Rukmana (Sekar). Untuk merayakan usia 7 bulan cucu tercintanya, Tutut Soeharto menggelar acara tedhak siten di kediamannya, di Jalan Yusuf Adiwinata, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (28/8/2021).

Aryandra Athallah Sulistiyo Rukmana sangat bahagia dalam dekapan Eyang Tutut Soeharto dan Kakek Indra Rukmana, pada acara prosesi tedhak siten yang digelar di kediaman Eyang Tutut Soeharto di Jalan Yusuf Adiwinata, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (28/8/2021) – Foto Sri Sugiarti
 
Sang eyang, Tutut Soeharto, turun tangan langsung dalam  penyelenggaraan acara tersebut, hingga elemen-elemen terkecil tedhak siten Aryanda  Athallah Sulistiyo Rukmana. Bahkan Tutut Soeharto dengan senang hati menjelaskan masing-masing tahapan prosesi tedhak siten, yang penuh pesan bermakna.

 

Tedhak siten, adat budaya Jawa, warisan leluhur yang telah diajarkan almarhumah Ibu Tien Soeharto, kepada keluarga besarnya. Dengan harapan acara bermakna luhur tersebut tetap dilestarikan. Sehingga kegigihan Tutut Soeharto, dalam melestarikan budaya adat leluhur tersebut, membawanya untuk menggelar upacara adat tersebut kepada semua cucunya, saat menginjak usia 7 bulan.

 

Bahkan keluarga besar Cendana lainnya, juga kerap menggelar upacara tedhak siten. Seperti pasangan Panji Adhikumoro Soeharto atau Panji Trihatmodjo dan Varsha Strauss, yang mengadakan tedhak siten untuk putrinya. Pandji merupakan putra dari Bambang Trihatmodjo, anak ketiga Presiden Suharto. “Tedhak siten ini adat Jawa warisan lelulur yang diajarkan Ibu Tien Soeharto, yang harus terus dilestarikan,” ujar Tutut Soeharto.

 

Tedhak siten, digelar  untuk merayakan perkembangan Aryandra, yang sudah mulai merangkak, dan kini tengah belajar untuk berdiri, lalu berjalan.  “Inti prosesi tedhak siten adalah permohonan kepada Allah SWT, agar anak yang mulai berjalan ini bisa menjalani kehidupan dengan baik. Jauh dari marabahaya, dan hidupnya penuh kemanfaatan serta kebahagiaan dalam lindungan Allah SWT,” ucapnya.

 

Tedhak siten, merupakan rangkaian prosesi adat tradisional dari tanah Jawa yang diselenggarakan pada saat pertama kali seorang anak belajar menginjakkan kaki ke tanah. Kegiatan ini bertujuan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berlimpah doa dan harapan serta arahan dalam hidup. Tedhak siten adalah tradisi budaya Jawa, yang dilakukan sebagai upaya lestarikan adat budaya Indonesia.

 

Selain itu kegiatan ini juga untuk mengingatkan agar bersyukur dan berdoa kepada Allah SWT. “Semoga cucu saya Aryandra, menjadi pribadi yang mandiri, anak yang salih, yang berbudi pekerti, berbudi luhur dan berbakti kepada kedua orang tua, agama, nusa dan bangsa,” imbuh Tutut Soeharto.

 

Tedhak berarti kaki atau melangkah, dan Siten berasal dari kata Siti yang artinya tanah. Upacara tedhak siten, dilakukan sebagai rangkaian acara yang bertujuan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berlimpah doa dan harapan serta arahan dalam hidup.
 
Tedhak siten atau turun tanah bagi seorang anak yang genap usia tujuh bulan, dengan perhitungan satu lapan adalah 35 hari. Biasanya. anak seusia itu ingin turun ke tanah, brangkangan atau merangkak. Dan, Aryandra Athallah Sulistiyo Rukmana, telah memasuki usia itu untuk belajar menginjak tanah.
 
Dalam upaya melestarikan budaya Jawa ini, Tutut Berharap generasi muda akan turut melestarikan adat tedhak siten. “Generasi muda, kiranya perlu terus diberi pemahaman tentang tradisi-tradisi warisan leluhur yang adiluhung ini, dengan harapab mereka ikut merawat dan melestarikannya,” pungkasnya.
Lihat juga...