Udinus-IPB Ciptakan Robot Pemanen Buah Melon

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Penerapan teknologi di sektor pertanian, terus didorong untuk mengoptimalkan hasil yang dicapai. Termasuk penggunaan teknologi internet  of things (IoT) hingga robot.

Melalui teknologi tersebut, diharapkan dapat meningkatan hasil pertanian, mulai dari efektivitas penanaman, perawatan, hingga panen. Selain itu, biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh petani makin menurun dengan hasil produksi yang meningkat.

Salah satunya, ditunjukkan Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang  yang bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam menciptakan robot untuk memanen buah melon.

“Pada prinsipnya, robot ini bertugas untuk memanen buah melon yang sudah matang. Kita membuat pemograman hingga robot yang digunakan dalam proses pemanenan, sementara IPB melakukan penelitian terkait pengidentifikasi melon yang matang seperti apa, metodenya bagaimana, kemudian dua hal tersebut digabungkan sehingga tercipta robot untuk memanen melon secara otomatis,” papar ketua tim robot Udinus, sekaligus Kaprodi Teknik Elektro, Dr. M Ary Heryanto, M. Eng., saat ditemui di kampus tersebut, Senin (30/8/2021).

Dijelaskan, dalam pengidentifikasian melon yang sudah matang, robot tersebut menggunakan pembacaaan warna serta tangan ketukan.

Ketua tim robot Udinus, sekaligus Kaprodi Teknik Elektro, Dr. M Ary Heryanto, M.Eng (kiri), bersama anggota, saat memaparkan cara kerja robot pemanen melon di kampus tersebut, Senin (30/8/2021). –Foto: Arixc Ardana

“Jadi, robot akan mencari melon yang berwarna kuning, sebagai penanda melon tersebut sudah matang. Kemudian, dengan lengan yang kita tempatkan pada robot, melakukan ketukan pada buah melon,” terangnya.

Ketukan tersebut prinsipnya hampir mirip dengan cara tradisional yang kita lakukan untuk mengecek buah sudah matang atau belum.

“Ada sensor yang membaca hasil ketukan tersebut, yang akan memberikan hasil, bahwa buah tersebut sudah matang atau masih mentah. Jika hasilnya matang, maka buah melon tersebut otomatis akan dipotong dari tangkainya, dan ditaruh di wadah yang tersedia,” paparnya.

Ary menandaskan, robot tersebut bisa diaplikasikan pada pertanian melon di mana saja. “Tidak ada syarat khusus, hanya saja memang robot ini kita buat untuk model pertanian melon sistem gantung. Jadi, buah melon tidak di tanah, namun digantung, sehingga memudahkan dalam pemanenan,” lanjutnya.

Sementara anggota tim lainnya, Filmada Ocky Saputra, M.Eng., menjelaskan robot pemanen melon tersebut, prinsipnya merupakan robot line follower dengan teknologi kecerdasan buatan.

“Prinsip kerjanya, robot tersebut akan mengikuti line atau garis sensor yang sudah dibuat di sepanjang lajur perkebunan atau pertanian melon. Saat mengikuti garis tersebut, robot akan ‘membaca‘ tanaman melon yang tumbuh di kanan kirinya. Jika ada yang sudah matang, otomatis akan langsung dipanen,” terangnya.

Anggota tim lainnya, Arga Dwi Pambudi, MT., menambahkan robot tersebut bisa diaplikasikan pada pertanian melon berskala besar, karena dapat bergerak dengan kecepatan maksimal hingga 10 km per jam.

“Untuk menyiasati lahan pertanian yang tidak rata, roda pada robot ini juga menggunakan roda tank, jadi bisa bebas bergerak, “ tambahnya.

Saat ini, robot pemanen melon tersebut yang tengah dikerjakan tim Udinus dan IPB dalam tahap penyelarasan antara sistem sensor penentuan kematangan melon dan cara kerja robot.

“Dari Udinus ada empat orang, selain kami bertiga, ada juga anggota yang lain, Dr. Herwin Suprijono, MT. Kita berharap pada akhir tahun ini robot ini benar-benar sudah siap, dan dapat diaplikasikan pada lahan pertanian atau perkebunan melon,” pungkasnya.

Lihat juga...