Update 26 Agustus 2021, Indonesia Catatkan Penurunan Kasus Kematian Harian

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Pada tanggal 26 Agustus 2021, Indonesia mencatatkan angka kematian di bawah 1.000 dan mencatatkan penurunan kasus baru.

Sesuai dengan update dari Badan Nasional Pengendalian Bencana (BNPB) pada Kamis, 26 Agustus 2021, kasus baru bertambah 16.899 menjadi 4.026.837, menurun dari hari kemarin yang berjumlah 18.671. Angka kematian harian pun menurun, yaitu 889, yang menjadikan jumlah kematian menjadi 130.182 kasus atau 3,219 persen dari jumlah kasus keseluruhan.

Untuk angka kesembuhan, terjadi penambahan sebanyak 30.099 menjadi 3.669.966 atau 90,756 persen dari keseluruhan kasus.

Dari pergerakan data tersebut, penambahan kasus baru untuk sepuluh besar yakni Jawa Barat 5.058, Jawa Timur 1.354, Sumatera Utara 975, Jawa Tengah 811, DI Yogyakarta 795, Kalimantan Timur 637, DKI Jakarta 574, Bali 565, Riau 555 dan Sumatera Barat 483.

Untuk angka kematian terbesar harian, untuk sepuluh besar dicatatkan secara berurut oleh Jawa Barat 235, Jawa Timur 161, Jawa Tengah 76, Bali 51, Kalimantan Timur 36, Riau dan Lampung masing-masing 30, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Tengah masing-masing 24, Sumatera Selatan 21, Aceh 17 dan DI Yogyakarta 15.

Sementara itu, per 26 Agustus 2021, pukul 10.32 GMT, berdasarkan data dari worldometers.info terjadi penambahan kasus menjadi 214.887.906 dengan jumlah kematian sebanyak 4.479.206 dan kasus sembuh 192.197.233.

Di tatanan dunia, Indonesia menempati posisi posisi ke 13, untuk jumlah kumulatif kasus. Kasus baru harian, Indonesia berada di posisi ke 4 dengan 16.899 kasus, setelah Iran 36.758, Mexico 21.250 dan Rusia 19.630. Untuk angka kematian harian, Indonesia berada di posisi kedua dengan jumlah 889 jiwa, setelah Mexico 986 jiwa.

Sementara dalam kelompok Asia, dari 49 negara, Indonesia masih menempati posisi ke empat dalam total kasus 4.043.736 dan penyumbang terbanyak kasus kematian harian, yaitu 889, diikuti Iran 694 jiwa dan Thailand 229 jiwa.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, Jumat (6/8/2021) – Foto Ranny Supusepa

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menyatakan upaya menurunkan angka kematian harus dimulai dari pencegahan penularan.

“Caranya, ya dengan melakukan protokol kesehatan dengan ketat dan menerima vaksinasi secara lengkap, terutama bagi kelompok yang memiliki risiko tinggi,” kata Nadia saat dihubungi, Kamis (26/8/2021).

Ia menekankan pentingnya pemahaman di masyarakat yang menjalani isolasi mandiri, bahwa tak boleh memberhentikan proses isoman sendiri.

“Isoman itu berakhir kalau tenaga kesehatan memutuskan memang kondisi individu yang menjalani sudah aman untuk berhenti dari program tersebut,” ujarnya

Jika merasakan adanya gejala atau melihat ada keluarga yang menunjukkan gejala, secepat mungkin dibawa ke fasilitas layanan kesehatan.

“Varian Delta memiliki keparahan yang lebih cepat. Sehingga jika memang menunjukkan gejala, jangan menunda lagi. Langsung mendatangi pusat layanan kesehatan terdekat agar secepatnya dapat dilayani,” ujarnya lagi.

Pemerintah, lanjutnya, juga terus berkonsolidasi dengan pihak otoritas terkait untuk melaksanakan pelacakan kontak erat atau tracing.

“Tracing ini penting untuk penemuan kasus secara dini. Sehingga bisa dilakukan treatment lebih dini pula. Karena itu kita melibatkan TNI dan Polri dalam proses pelacakan ini,” tuturnya.

Terutama pada daerah yang tingkat keterlacakan kontak erat masih di bawah 80 persen.

“Dengan adanya kerja sama, kita harapkan bisa meningkatkan jumlah penduduk yang mau melakukan testing paska kontak erat dengan individu yang terpapar. Sehingga, penularan bisa lebih cepat terdeteksi,” pungkasnya.

Lihat juga...