Update 31 Agustus 2021 : Hanya Jawa Timur yang Masih Catatkan Kematian Harian di Atas 100

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Pada tanggal 31 Agustus 2021, Indonesia masih terus mencatatkan penurunan angka kematian harian. Bahkan hanya tinggal satu provinsi saja yang angka kematiannya di atas 100, yaitu Jawa Timur.

Sesuai dengan update dari Badan Nasional Pengendalian Bencana (BNPB) pada Selasa, 31 Agustus 2021, kasus baru bertambah 10.534 menjadi 4.089.801, meningkat dari hari kemarin yang tercatat 5.436. Angka kematian harian bertambah 532 menjadi 133.023 kasus atau 3,252 persen dari jumlah kasus keseluruhan.

Untuk angka kesembuhan, terjadi penambahan sebanyak 16.781 menjadi 3.760.497 atau 91,948 persen dari keseluruhan kasus.

Dari pergerakan data tersebut, penambahan kasus baru untuk sepuluh besar yakni Jawa Timur 1.323, Jawa Barat 1.127, Sumatera Utara 792, Jawa Tengah 635, Kalimantan Timur 548, DI Yogyakarta 539, Riau 437, DKI Jakarta 399, Sulawesi Selatan 389 dan Bali 376.

Untuk angka kematian terbesar harian, untuk sepuluh besar dicatatkan secara berturut oleh Jawa Timur 132, Jawa Barat 37, DI Yogyakarta 33, Jawa Tengah 31, Riau 30, DKI Jakarta 29, Aceh 26, Sumatera Utara 24, Lampung 23 dan Sumatera Selatan 20.

Sementara itu, per 31 Agustus 2021, pukul 10.04 GMT, berdasarkan data dari worldometers.info terjadi penambahan kasus menjadi 217.990.101 dengan jumlah kematian sebanyak 4.525.239 dan kasus sembuh 194.896.574.

Di tatanan dunia, Indonesia menempati posisi posisi ke 13, untuk jumlah kumulatif kasus. Kasus baru harian, Indonesia berada di posisi ke-5 dengan 10.534 kasus, setelah Rusia 17.813, Thailand 14.666, Philipina 13.827 dan Jepang 13.638. Untuk angka kematian harian, Indonesia berada di posisi kedua dengan jumlah 532 jiwa, setelah Rusia dengan 795 jiwa.

Grafik per Provinsi tanggal 31 Agustus 2021 – Dokumen BNPB

Sementara dalam kelompok Asia, dari 49 negara, Indonesia masih menempati posisi ke empat dalam total kasus 4.073.831 dan penyumbang terbanyak kasus kematian harian, yaitu 532, diikuti Thailand 190 jiwa serta Philipina dan Pakistan yang masing-masing mencatatkan 118 jiwa.

Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman, Senin (31/5/2021) – Foto Ranny Supusepa

Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman menyatakan penurunan level PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) harus berpatokan pada indikator yang sudah ditentukan.

“Jika dilakukan penurunan level, artinya pemerintah harus menjamin cakupan testing tetap terjaga. Positivity rate juga benar-benar terpantau,” kata Dicky.

Bukan hanya daerah itu saja yang harus diperhatikan. Tapi daerah di sekitarnya.

“Contohnya Jakarta. Secara penilaian bisa turun, tapi harus dilihat kondisi di daerah sekitarnya seperti Bekasi, Depok, Bogor dan Tangerang. Capaian DKI Jakarta ini sangat dinamis. Sangat labil dan rentan untuk bergerak naik dan turun,” urainya.

Dicky juga menekankan bahwa penurunan level bukan berarti daerah tersebut bisa melonggarkan 3T (tracing – testing – treatment).

“Tetap harus dilakukan setidaknya 80 persen dari kelompok kontak. Isolasi karantina setidaknya 80 persen dari kasus kontak,” pungkasnya.

Lihat juga...