Update Covid-19 24 Agustus 2021: Indonesia Tembus Empat Juta Kasus

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Pada 24 Agustus 2021, Indonesia mencatatkan angka kasus baru 19.106 yang akhirnya membuat angka kasus Indonesia menembus angka 4.008.166.

Untuk angka kematian harian, Indonesia kembali meningkat, yaitu 1.038, jika dibandingkan pada 23 Agustus 2021, yang mencatatkan 842 jiwa. Jumlah angka kematian Indonesia saat ini adalah 128.252 atau 3,199 persen dari jumlah kasus keseluruhan.

Sementara angka kesembuhan yang tercatat adalah 35.082, jauh meningkat dibandingkan hari kemarin, yang mencatat angka 24.758 dan menjadikan total kasus sembuh menjadi 3.606.164 atau 89,97 persen dari keseluruhan kasus.

Tercatat sepuluh besar provinsi yang memiliki angka kematian terbesar harian adalah Provinsi Jawa Barat dengan 314 jiwa, Jawa Timur 185, Jawa Tengah 114, Bali 44, DI Yogyakarta 39, Lampung dan Kalimantan Timur masing-masing 36, Sumatera Utara 35, Riau 25, Sumatera Selatan 23 serta Sulawesi Tengah dan Bangka Belitung yang masing-masing 15.

Sementara untuk jumlah kasus baru harian, untuk sepuluh besar dicatatkan secara berurut oleh Jawa Barat 5.255, Jawa Timur 1.700, Jawa Tengah 1.242, Sumatera Utara 1.135, Bali 934, Kalimantan Timur 791, DI Yogyakarta 748, Nusa Tenggara Timur 585, Sulawesi Tengah 573 dan Riau 563.

Pada 24 Agustus 2021, pukul 10.01 GMT, Worldometer melaporkan jumlah kasus menjadi 213.406.532 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 4.456.302 dan kasus sembuh 190.983.590.

Di level dunia, Indonesia menempati posisi ke 13, untuk jumlah kumulatif kasus. Pada penambahan kasus baru harian, Indonesia mencatat 19.106 kasus yang menjadikan Indonesia sebagai negara penyumbang kasus tertinggi.

Sementara untuk angka kematian harian, Indonesia berada di posisi pertama dengan jumlah 1.038 jiwa diikuti oleh Rusia 794 jiwa dan Mexico 371 jiwa.

Sementara dalam kelompok Asia, dari 49 negara, Indonesia masih menempati posisi ke-4 dalam total kasus dan penyumbang terbanyak kasus kematian harian.

Direktur IDEAS, Yusuf Wibisono, menyatakan, kasus angka kematian yang masih fluktuatif terjadi karena pemerintah menjalankan pembatasan tidak secara serius.

Direktur IDEAS, Yusuf Wibisono, Kamis (1/7/2021) lalu – Foto: Ranny Supusepa

“Ini terjadi karena PPKM kita tidak serius, hanya semi lockdown. Tidak diikuti 3T (testing – tracing – treatment) yang masif dan 3M (menjaga jarak – memakai masker – mencuci tangan) yang kuat. Akibatnya pandemi masih belum terkendali dengan indikator yang paling kuat adalah angka kematian harian Indonesia masih tertinggi,” kata Yusuf saat dihubungi, Selasa (24/8/2021).

Ia menjelaskan kondisi yang dialami Indonesia adalah dilema kesehatan-ekonomi yang sejak awal pandemi sudah dihadapi.

“Kini dampaknya semakin serius karena terus berulang, sehingga ketidakpastian usaha menjadi sangat tinggi. PPKM diperpanjang, momentum pertumbuhan kuartal I dan II 2021 dipastikan akan semakin tergerus, dampak ke dunia usaha belum terlalu terlihat, namun PPKM sudah kembali menerpa. Namun tanpa PPKM, pandemi semakin tidak terkendali,” ucapnya.

Ia menyebutkan dalam kondisi semacam ini yang menjadi penting adalah kemauan dan keberanian politik.

“Apakah pemerintah serius melindungi setiap nyawa anak bangsa. Kalau anggaran itu masalah turunan dari sikap politik pemimpin. Implikasi ketidakseriusan sejak awal pandemi, menyebabkan virus semakin tersebar ke penjuru negeri dan biaya penanggulangan semakin membesar. Ini adalah harga yang sekarang harus dibayar pemerintah,” ucapnya lagi.

Yusuf menyebutkan, kalau menginginkan prospek ekonomi kembali membaik dengan pertumbuhan tinggi, caranya hanya dengan menyelesaikan pandemi secepatnya dan setuntasnya, tidak setengah-setengah.

“Selama penanganan pandemi tidak serius, serangan wabah akan terulang, dengan potensi lebih mematikan karena adanya peluang mutasi virus yang lebih menular. Dalam jangka pendek pertumbuhan ekonomi pasti melambat, tapi dalam jangka panjang cerah,” pungkasnya.

Lihat juga...