Update Covid-19: Angka Kematian Menurun, Angka Sembuh Meningkat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Pada hari perayaan kemerdekaan, 17 Agustus 2021, Indonesia kembali mencatat penurunan angka kematian harian, yaitu 1.180, dibandingkan angka kematian harian pada tanggal 16 Agustus 2021, yang mencatatkan 1.245 jiwa.

Penurunan ini menjadikan total kasus kematian menjadi 120.013 atau 3,083 persen dari total keseluruhan kasus, yaitu 3.892.479.

Indonesia juga mencatatkan peningkatan angka kesembuhan sebesar 32.225 kasus, dan menjadikan total kasus sembuh menjadi 3.414.109 atau 87,710 persen dari keseluruhan kasus. Dengan jumlah kasus kematian harian di seluruh provinsi adalah 1.180, menurun dari hari kemarin yaitu 1.245.

Tercatat sepuluh besar provinsi yang memiliki angka kematian terbesar harian adalah Provinsi Jawa Tengah 304 jiwa, Provinsi Jawa Timur dengan 257 jiwa, Jawa Barat 90, Kalimantan Timur 52, Bali 48, DI Yogyakarta 44, Kalimantan Selatan 40, Lampung 36, Riau 33 dan Sulawesi Selatan 30.

Sementara untuk jumlah kasus baru harian, untuk sepuluh besar dicatatkan secara berurut oleh Jawa Tengah 3.263 kasus, Jawa Timur 2.346, Jawa Barat 1.643 kasus, Sumatera Utara 1.172, DI Yogyakarta 1.106, Bali 988, Kalimantan Timur 923, Sulawesi Tengah 891, Riau 819 dan Kalimantan Selatan 669.

Pada 17 Agustus 2021, pukul 09.26 GMT, Worldometer melaporkan jumlah kasus menjadi 208.774.206 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 4.384.996 dan kasus sembuh 187.156.476, dengan posisi Indonesia adalah 13 di seluruh dunia dan menempati posisi ke-4 di Asia.

Direktur IDEAS, Yusuf Wibisono, menjelaskan kondisi kematian harian Indonesia yang tinggi, bahkan pada sehari lalu menjadi yang tertinggi di dunia, bisa disebabkan oleh beberapa hal.

Direktur IDEAS, Yusuf Wibisono, dijumpai Rabu (11/8/2021) lalu – Foto: Ranny Supusepa

Testing rate Indonesia yang rendah. Angka penularan kasus terlihat menurun, namun sebenarnya yang terjadi adalah tidak terdeteksi, karena testing rate yang rendah,” kata Yusuf saat dihubungi, Selasa (17/8/2021).

Penyebab lainnya adalah tidak optimalnya perawatan di pusat layanan kesehatan yang diberi tanggung jawab untuk melakukan pelayanan pada pasien COVID-19.

“Perawatan kesehatan tidak optimal, baik untuk alasan pasien tidak tertangani karena keterbatasan faskes dan nakes, terutama di luar Jawa, atau karena pasien yang memang memilih tidak mau ke RS sehingga kondisinya tidak terkontrol dan akhirnya menjadi tidak tertolong,” ucapnya.

Penyebab ketiga, adalah tingkat vaksinasi yang rendah.

“Tingkat fatalitas yang tinggi umum ditemui pada pasien yang belum divaksin. Tingginya angka kematian covid-19 cermin dari lambannya kecepatan vaksinasi,” ucapnya lagi.

Yusuf meminta kepada pemerintah untuk memperkuat langkah 3T, testing, tracing dan treatment.

“Lemahnya 3T membuat kita tidak mengetahui kondisi wabah sesungguhnya. Dan ini fatal ketika kita bertemu varian delta yang sifatnya jauh lebih menular dibandingkan varian lainnya,” tuturnya.

Selain itu, Yusuf juga meminta pemerintah mempercepat program vaksinasi.

“Saya menilai saat ini lamban. Bukan hanya karena faktor masyarakat yang enggan tapi juga karena masalah pada pasokan dan keterbatasan nakes,” pungkasnya.

Lihat juga...