Update COVID 25 Agustus 2021, Angka Kematian Tetap di Atas 1.000 Kasus

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Pada tanggal 25 Agustus 2021, Indonesia kembali mencatatkan angka kematian di atas 1.000. Walaupun kasus baru mengalami penurunan.

Sesuai dengan update dari Badan Nasional Pengendalian Bencana  (BNPB) pada Rabu, 25 Agustus 2021, kasus baru bertambah 18.671 menjadi 4.026.837, menurun dari hari kemarin 19.106. Sementara untuk kematian harian bertambah 1.038 menjadi 128.252 kasus atau 3,210 persen dari jumlah kasus keseluruhan.

Untuk angka kesembuhan, terjadi penambahan sebanyak 33.703 menjadi 3.369.267 atau 90,390 persen dari keseluruhan kasus.

Dari pergerakan data tersebut, penambahan kasus baru untuk sepuluh besar yakni Jawa Barat 5.464; Jawa Timur 1.619; Sumatera Utara 1.020; DI Yogyakarta 873; Kalimantan Timur 865; Jawa Tengah 813; DKI Jakarta 789; Bali 746; Sulawesi Selatan 565; dan Riau 509.

Untuk angka kematian terbesar harian, untuk sepuluh besar dicatatkan secara berurut oleh Jawa Barat 270; Jawa Timur 206; Jawa Tengag 102; Kalimantan Selatan 49; Bali 45; DI Yogyakarta dan Kalimantan Timur masing-masing 39; Sulawesi Selatan 32; Riau 31; Sumatera Utara 28 dan Bangka Belitung 22.

Grafik per Provinsi tanggal 25 Agustus 2021 – Dokumen BNPB

Sementara itu, per 25 Agustus 2021, pukul 09.51 GMT, berdasarkan data dari worldometers.info terjadi penambahan kasus menjadi 214.100.699 dengan jumlah kematian sebanyak 4.467.815 dan kasus sembuh 191.608.183.

Di tatanan dunia, Indonesia menempati posisi posisi ke 13, untuk jumlah kumulatif kasus. Kasus baru harian, Indonesia berada di posisi ke 2 dengan 18.671 kasus. Untuk angka kematian harian, Indonesia berada di posisi pertama dengan jumlah 1.041 jiwa, diikuti oleh Mexico 940 jiwa dan Rusia 809 jiwa.

Sementara dalam kelompok Asia, dari 49 negara, Indonesia masih menempati posisi ke empat dalam total kasus 4.026.837 dan penyumbang terbanyak kasus kematian harian, yaitu 1.041, diikuti Thailand 297 jiwa dan Philipina 228 jiwa.

Waketum IDI Slamet Budiarto, Selasa (13/7/2021) – Foto Ranny Supusepa

Waketum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Slamet Budiarto menyebutkan, untuk membantu penanganan COVID 19 di Indonesia, pemerintah harus melakukan kajian mendalam pada program vaksinasi.

“Langkah untuk mencapai herd immunity itu bisa didapatkan dari kekebalan karena infeksi alamiah dan didapatkan dari vaksinasi,” kata Slamet di depan Komisi IX DPR, Rabu (25/8/2021).

Kekebalan yang didapatkan dari vaksinasi, lanjutnya, dipengaruhi oleh oleh angka efikasi dan jumlah penduduk yang sudah menerima vaksinasi lengkap.

Contohnya, dengan vaksin yang memiliki angka efikasi 95, artinya jumlah penduduk yang harus menerima vaksinasi lengkap adalah 63 persen dari populasi.

“Jadi kalau efikasinya 90, artinya harus 66 persen paling sedikit. Kalau 80, harus 75 persen dari populasi. Kalau 86 persen, artinya yang menerima vaksinasi lengkap adalah minimal 86 persen dari populasi,” urainya.

Kalau memang target populasi ini tidak tercapai, Slamet mengimbau pemerintah untuk memiliki langkah cadangan, jika memang angka vaksinasi tidak juga tercapai dalam waktu tertentu.

“Berdasarkan analisa kami, dalam waktu 6-12 bulan harus dilakukan vaksin booster. Sehingga jika herd immunity tidak tercapai di akhir tahun, paling tidak pada Januari hingga April tahun depan harus dilakukan,” urainya lagi.

Slamet menyatakan penghargaannya pada upaya pengadaan vaksin yang dilakukan pemerintah.

“Menurut pemantauan, per hari ada sekitar 594 ribu. Kalau bisa 600 ribu per hari, kami perkirakan sekitar 8 bulan sudah akan tercapai Herd Immunity,” tandasnya.

Lihat juga...