Warga di Bekasi Ubah Limbah Batok Kelapa Jadi Cairan Petisida

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Budi, ditemui Cendana News di lokasi pembakaran arang, di RW 4 Jatisari, Jatiasih, Rabu (4/8/2021). Foto: Muhammad Amin

BEKASI — Menggunakan alat seadanya Budi, pembuat arang di RW 04, Kelurahan Jatisari, Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, mengubah asap pembakaran batok arang menjadi cairan yang disebutnya sebagai cairan petisida. Cairan yang berasal dari endapan asap menjadi anti budi bagi tanaman.

Ide tersebut berangkat dari kegelisahannya, karena terus menyempitnya lokasi area pembuatan batok arang yang dilakoninya, selama puluhan tahun. Hingga akhirnya ia berpikir bagaimana caranya agar asap pembakaran tidak mengganggu lingkungan sampai membuatnya berinovasi dengan cara manual setelah melihat berbagai refrensi.

“Berawal dari kegelisahan karena proses pembakaran arang batok kelapa membuat pencemaran udara di sekitar lingkungan akibat proses pembakaran. Dulu lingkungan ini sepi, tapi sekarang banyak hunian. Agar tidak mengganggu lingkungan bagaimana asap pembakaran ini bisa dimanfaatkan dan tidak mengganggu lingkungan, hingga akhirnya mencoba diendapkan dengan tabung seadanya,” ungkap Budi, ditemui Cendana News, di lokasi produksinya, Rabu (4/8/2021).

Dikatakan caranya dengan alat seadanya membuat pipa khusus untuk mengarahkan asap dari pembakaran bisa masuk ke tabung yang dibuat dari tempat penampungan air (toren), yang sedikit dibolongi agar tidak terjadi tekanan. Asapnya tetap bisa keluar tapi tidak terlalu banyak dan yang mengendap berubah menjadi cairan.

Menurutnya untuk sekali pengolahan batok arang kelapa itu sendiri dari pembakaran satu drum atau 10 karung batok kelapa dari karung ukuran 50 Kg bisa mengeluarkan cairan hingga 20 liter. Cairan tersebut digunakan untuk menyiram tanaman di lokasi pembakaran yang dibudidayakannya.

“Selama ini di pakai sendiri untuk budidaya, disiraman ke tanaman, misalkan banyak semut atau hama. Setelah disiram, semua jenis hama menjauh, seperti belalang dan lainnya,” jelas Budi.

Proses pembuatan pupuk alami menggunakan bahan cocofit, dicampurkan granol atau sisa pembakaran arang yang hampir menjadi serbuk kemudian disiram dengan cairan endapan asap, Rabu (4/8/2021). Foto: Muhammad Amin

Selain mengolah asap menjadi cairan petisida, Budi juga memanfaat serbuk arang sisa pembakaran atau granol diolah bersama cocofit dari sabut kelapa untuk pupuk tanaman, seperti pisang atau sayuran yang ditanamnya melalui pot.

“Untuk dalam pencampuran serbuk arang dan cocofit disiram dengan cairan dari endapan asap maka hasilnya bisa lebih maksimal untuk tanaman,” paparnya.

Diakuinya dari proses endapan asap cairan yang dihasilkan tersebut pernah sekali dikirim ke wilayah Jawa Timur untuk digunakan penyemprotan tanaman guna mengusir hama. Cairan asap itu sendiri sebenarnya berubah jadi petisida, tapi tidak berbahaya bagi tanaman.

Pemerhati lingkungan Maman Warman, mengapresiasi cara Budi dalam menjaga lingkungan dari polusi udara tersebut dan berharap bisa menjadi perhatian pemerintah Kota Bekasi, melalui Dinas UMKM.

Kang Abel sapaan akrabnya berharap bisa dibuatkan semacam cerobong asap agar hasil pengolahan pembakaran batok kelapa menjadi cairan petisida bisa lebih maksimal.

Lihat juga...