Warga Kampung Purbayan di Yogyakarta Ubah Halaman Jadi Kebun Sayur

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Sebagai upaya mengisi kegiatan sekaligus mengurangi kebosanan di masa pandemi, sejumlah warga RT 57 RW 15 kampung Purbayan, Kotagede Yogyakarta, memanfaatkan pekarangan halaman terbengkalai di kampung mereka menjadi lahan pertanian sayur di tengah kota. 

Melalui Kelompok Tani Wanita (KWT) Lumbung Mataram, warga bersama-sama menanam berbagai jenis tamanan pangan produktif mulai dari cabai, sawi, selada, kangkung, bayam, terong, tomat, waluh hingga kacang panjang, dan sebagainya di lahan seluas kurang lebih 10.000 meter milik salah seorang warga .

Selain dikonsumsi sendiri oleh para anggota KWT, hasil panen sayur-sayuran tersebut juga telah dimanfaatkan untuk membantu warga kampung yang tengah menjalani isolasi mandiri (isoman). Sehingga diharapkan mereka dapat mengkonsumsi makanan bergizi dan lekas sembuh dari Covid-19.

Ketua RT 57 Kampung Purbayan, sekaligus pengurus KWT Lumbung Mataram, Widodo Mulyo (52), mengatakan kegiatan bertani di kampungnya mulai berjalan sejak awal pandemi tepatnya sekitar bulan Oktober 2020 lalu. Yakni bermula dari program bimbingan Dinas Pertanian Kota Yogyakarta kepada sejumlah warga Purbayan.

“Kebetulan banyak warga di sini yang memiliki hobi bercocok tanam saat awal masa pandemi. Dari situlah kita mulai membentuk kelompok. Apalagi ada salah seorang warga yang mengizinkan tanahnya digunakan sebagai lahan demplot. Awalnya ada sebanyak 20 anggota, namun kini yang aktif hanya sekitar 15 orang saja. Baik itu bapak-bapak ataupun ibu-ibu dan pemuda,” ungkapnya, Rabu (11/8/2021).

Selain telah mampu menanam dan memanen berbagai jenis sayuran, KWT Lumbung Mataram juga telah mampu memproduksi berbagai macam bibit sayuran. Bibit-bibit tersebut kemudian dipasarkan dan dijual pada masyarakat maupun KWT lain di kota Yogyakarta. Hasilnya pun ternyata cukup lumayan, mereka mampu mendapatkan pemasukan ratusan ribu rupiah setiap bulannya.

“Bibitnya biasanya kita bagi warga yang ingin menanam ataupun kita jual ke KWT lain. Sedangkan hasil panen sayur kita pasarkan ke warga kampung dengan harga yang lebih murah. Sehingga diharapkan warga bisa merasakan manfaatnya. Kemarin kita juga telah mensuplai hasil panen secara gratis pada warga yang tengah menjalani isoman,” ungkapnya.

Tak hanya memproduksi bibit dan sayur siap konsumsi KWT Lumbung Mataram juga telah berhasil membuat pupuk organik secara mandiri. Lewat bimbingan Dinas Pertanian setempat, mereka mampu memanfaatkan limbah sayuran serta kotoran ternak untuk dibuat menjadi kompos hingga pupuk cair yang bermanfaat menyuburkan tanaman.

“Ke depan kita ingin tidak hanya memproduksi bibit sayur-sayuran saja. Namun juga berbagai macam bibit buah-buahan. Karena di sini lahan masih sangat luas. Selain itu kita juga ingin menjadikan kebun ini sebagai tempat belajar bagi anak-anak sekolah baik itu TK atau SD. Agar mereka bisa mengenal berbagai macam sayur dan buah dengan langsung melihat dan menanamnya,” pungkasnya.

Lihat juga...