15 Juta UMKM di Indonesia Masuk Ekosistem Digital, Terpusat di Jawa

Editor: Koko Triarko

Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo), Ikhsan Ingratubun, saat menyampaikan dampak pandemi Covid-19 bagi pelaku UMKM, pada diskusi virtual bertema bangkit UMKM di Jakarta, yang diikuti Cendana News, Selasa (20/4/2021). –Dok: CDN

JAKARTA – Selama pandemi Covid-19, tercatat 15 juta pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) telah masuk dalam ekosistem  digital. Diharapkan, pemerintah lebih meningkatkan iklim pemasaran digital ini dengan berbagai infrastruktur penunjang. 

“Sebelum pandemi pelaku UMKM yang pemasaran produknya masuk ke ekosistem digitalisasi atau dagang elektronik itu sekitar 8 juta unit. Selama 1,5 tahun pandemi ini, angkanya naik menjadi 15 juta unit,” ujar Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo), Ikhsan Ingratubun, kepada Cendana News, saat dihubungi Selasa (7/9/2021).

Dijelaskan dia, sebagian besar pelaku UMKM yang masuk ke ekosistem berbasis digital masih berpusat di pulau Jawa, dengan kontribusi sekitar 75 sampai 80 persen. Dan, sebesar 25 persennya tumbuh di luar pulau Jawa.

Tercatat, per Agustus 2020 pertumbuhan pelaku UMKM di luar Jawa dipimpin oleh aktivitas dagang elektronik di provinsi Palembang, Medan dan Bali. Bahkan, di provinsi Sulawesi Selatan juga sudah menggeliat pertumbuhannya.

Bendahara Asosiasi Modal Ventura Seluruh Indonesia (Amvesindo), Edward Ismawan Chamdani, pada diskusi virtual tentang pendanaan UMKM di Jakarta yang diikuti Cendana News, Senin (2/11/2020). –Dok: CDN

“25 persen di luar pulau Jawa, prospek pertumbuhannya dagang digitalisasi atau e-commerce pelaku UMKM masih baik. Ini didukung berubahnya pola belanja masyarakat selama pandemi Covid-19 yang beralih ke digital,” tukasnya.

Ikhsan berharap, pemerintah berupaya untuk lebih meningkatkan iklim ekosistem digital di semua provinsi di Indonesia.

Tentu, menurutnya harus didukung dengan mengembangkan infrastruktur teknologi dan informasi yang merata di seluruh Indonesia. Sehingga memudahkan pola perdagangan berbasis ekosistem digital bagi pelaku UMKM dan konsumen, yakni masyarakat.

Bendahara Asosiasi Modal Ventura Seluruh Indonesia (Amvesindo), Edward Ismawan Chamdani, mengatakan pemulihan kinerja industri dagang-elektronik atau e-commerce akan berdampak signifikan terhadap pelaku UMKM.

Hal ini, menurutnya karena batasan antara pedagang-konsumen bermodal besar dan pedagang-konsumen menengah di segmen UMKM terlihat samar di platform digital atau e-commerce.

Dia berpendapat, samarnya batasan tersebut bisa memperluas akses dan menciptakan trafik baru bagi pelaku UMKM. “Yakni, di mana proses jual-beli tidak memerlukan lokasi fisik,” ujar Edward, saat dihubungi, Selasa (7/9/2021).

Namun demikian, dalam pengembangannya dia mencatat ada beberapa hal yang harus dibenahi dalam ekosistem digitalisasi bagi pelaku UMKM di Indonesia.

“Salah satunya, akses infrastruktur, seperti ketersediaan perangkat prasarana, kualitas jaringan, dan pasokan listrik di seluruh kota di Indonesia,” tandasnya.

Pengamat dan pemerhati UMKM, Suhaji Lestiadi, mengatakan, pemerintah dapat mempertimbangkan solusi untuk memicu aktivitas sektor UMKM sebagai lokomotif pemulihan ekonomi nasional.

“Solusinya harus ada peningkatan penguatan digitalisasi bagi UMKM untuk menuju marketplace,” ujar Suhaji Lestiadi, yang merupakan anggota dewan pakar majelis ekonomi PP Muhammadiyah, kepada Cendana News saat dihubungi Selasa (7/9/2021).

Apalagi, menurutnya UMKM di Indonesia turut berkompetisi dalam memenangkan pasar skala lokal dan mancanegara, dengan teknologi. Sehingga perlu didorong oleh berbagai aspek di dalamnya, seperti pemasaran digital, sistem pembayaran digital, layanan pelanggan virtual, dan lainnya.

Lihat juga...