Aktivitas Pabrik Obat Keras Terbesar Dibongkar Bareskrim di DIY

BANTUL – Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia menyebut, pengungkapan kasus produksi dan peredaran gelap obat keras dan berbahaya, yang diproduksi di sebuah pabrik di Daerah Istimewa Yogyakarta, merupakan kasus terbesar dari yang selama ini diungkap jajarannya.

“Dan penyebutan mega besar itu karena berdasarkan pengalaman kami, dan kami dapat menyimpulkan bahwa ini yang terbesar,” kata Direktur Tindak Pidana Narkoba (Dirtipidnarkoba) Bareskrim Polri, Brigjen Pol Krisno H Siregar, saat konferensi pers pengungkapan kasus tersebut di Yogyakarta, Senin (27/9/2021).

Menurut dia, kasus obat keras dan berbahaya yang diproduksi di pabrik wilayah DIY tersebut, menjadi yang terbesar karena kapasitas produksi yang besar dan jaringan peredarannya hingga ke seluruh Indonesia. Barang yang diproduksi diedarkan ke Jawa Barat, DKI Jakarta, DIY, Jawa Timur, Kalimantan Selatan. Dari 13 tersangka yang ditangkap, polisi menyita barang bukti lebih dari lima juta butir pil golongan obat keras jenis Hexymer, Trihex, DMP, Tramadol, double L, Aprazolam.

Barang-barang tersebut merupakan hasil penangkapan dari berbagai TKP tersangka. Ada di Cirebon, Indramayu, Majalengka, Bekasi dan Jakarta Timur. “Sebelumnya kami juga pernah temukan, tapi pengalaman kami ini yang paling besar, dari mesinnya maupun luas tempatnya, dan kelengkapan,” kata Krisno.

Meski demikian, untuk keterlibatan warga negara asing dalam kasus produksi obat keras dan berbahaya ini sejauh ini pihaknya belum dapat menyimpulkan. Namun, bahan baku pembuatan obat, ada yang berasal dari luar negeri. “Keterlibatan dengan orang asing sejauh ini belum ada, memang bahan-bahan kimia ini produsennya berasal dari negara tertentu, dari luar negeri. Tim lapor kami kemarin sudah datang untuk olah TKP, tentunya kami tidak bisa simpulkan begitu cepat sampai ada bukti,” katanya.

Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Yogyakarta, Dewi Prawitasari mengatakan, industri pembuatan obat keras di Yogyakarta yang diungkap polisi ini tidak hanya besar, tetapi besar sekali. Hal itu dikarenakan, produksinya yang luar biasa. “Jumlahnya yang begitu besar, kemudian dari bahan baku maupun mesin-mesin yang digunakan untuk produksi,” katanya.

Ada salah satu pil, yang sudah dilarang diproduksi dan nomor izin edar sudah tidak diperpanjang lagi oleh pemerintah, karena kecenderungan untuk disalahgunakan lebih mudah, ditemukan di produksi di tempat tersebut. “Jadi produk ini sebenarnya memang masih kita temukan di peredaran, dan di mana-mana ditemukan yang ilegal, artinya produsennya ilegal, dan tempat produksi juga ilegal,” katanya. (Ant)

Lihat juga...