Anak Muda Perlu Dibekali Keahlian Positif Cegah Radikalisme

Editor: Koko Triarko

Kepala Badan Kesbangpol Situbondo, Basuki Tri Cahya Utama, saat ditemui Cendana News di Situbondo, Kamis (16/9/2021). –Foto: Iwan Feriyanto

SITUBONDO – Radikalisme memiliki dampak terjadinya aksi teror yang merugikan masyarakat. Sayangnya, radikalisme seringkali melibatkan anak muda sebagai korban atau pelaku. Karenanya, upaya pencegahan penting dilakukan sejak dini.

Kepala Badan Kesbangpol Situbondo, Basuki Tri Cahya Utama, mengatakan hampir sebagian besar pelaku teror yang terjadi di masyarakat, tidak lepas dari peran aktif kaum muda. Baik mereka yang masih aktif menempuh pendidikan, maupun yang sudah menyelesaikan jenjang pendidikannya.

Anak muda masih menjadi sasaran utama dalam menerapkan pemahaman radikal, yang tujuannya atas kepetingan para pihak, dengan mengorbankan orang banyak.

“Untuk mencegah hal demikian, anak muda perlu diberi aktivitas positif sejak dini,” ujar Kepala Badan Kesbangpol Situbondo, Basuki Tri Cahya Utama, di Situbondo, Kamis (16/9/2021).

Basuki menyebutkan, banyak aktivitas positif yang bisa dilakukan oleh anak muda sejak masih berada di bangku sekolah. Salah satunya, aktivitas fisik untuk waktu luang mereka.

“Anak muda bisa dilatih bermacam keahlian, baik keahlian ekonomi, keterampilan, serta dilatih bermacam skill, agar waktu luang mereka diisi dengan aktivitas yang positif,” ucapnya.

Basuki mengakui, penggunaa smartphone yang makin luas memiliki pengaruh besar. Saat ini, hampir semua kalangan memiliki telepon pintar yang bisa digunakan untuk mengakses apa saja secara mudah.

“Terlebih dalam situasi pandemi seperti saat ini, smartphone menjadi fasilitas utama dalam pelaksanaan pembelajaran daring. Jadi, hampir sebagian besar anak SD sampai SMA sudah memiliki smartphone,” ungkapnya.

Namun, kata Basuki, smartphone akan memiliki dampak baik bila digunakan secara positif. Sebaliknya, juga dapat memiliki dampak buruk bila digunakan dengan tidak baik.

“Sebagai orang tua, harus sebisa mungkin untuk membatasi aktivitas anak menggunakan smartphone. Karena, mereka mengakses apa saja secara mudah. Tujuannya, anak tidak terpengaruh hal buruk yang merugikan,” jelasnya.

Selain itu, Basuki mengatakan jika anak muda harus bisa memilih teman atau kelompok teman yang baik setiap harinya. Jangan sampai karena salah memilih pertemanan, cenderung mengarah ke sesuatu hal yang tidak baik, salah satunya menghindari kelompok yang rentan menerapkan paham radikalisme.

Terpisah, Aldi Firmasyah, siswa SMA 1 Situbondo, mengatakan peran pemuda sangat penting dalam mencegah penyebaran paham radikalisme, terutama di Indonesia. Lingkungan sekitar menjadi faktor utama dalam mempertahankan sikap toleransi dan menangkal persebaran paham radikalisme.

“Sebagai generasi muda, tentu menjadi figur penting agar persebaran radikalisme tidak terjadi. Tentu hal tersebut turut membutuhkan peran aktif dari berbagai pihak, untuk bersama-sama mencegah munculnya paham radikalisme,” ucapnya.

Lihat juga...