Anak Penderita Gizi Buruk di Sikka Alami Kelumpuhan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Seorang anak yang mengalami cacat di Desa Namangkewa, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) sehari-harinya hanya terbaring di kursi karena mengalami kelumpuhan.

“Dia mengalami gizi buruk dan dokter sarankan harus diberi makanan bergizi ketika saya ceritakan kaki dan tangan anak ini kaku semua,” kata Elisabeth Elsi, warga Desa Namangkewa, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, NTT saat ditemui, Senin (13/9/2021).

Warga Desa Namangkewa, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, NTT, Elisabeth Elsi saat ditemui di rumahnya, Senin (13/9/2021). Foto: Ebed de Rosary

Elsi mengakui, dirinya merupakan orang tua angkat sekaligus bibi dari kedua anak yang dirawatnya karena setelah lahir kedua orang tuanya meninggalkan kedua anak tersebut.

Anak lelaki besar yang sejak kecil diasuh olehnya menderita hidrosephalis dan baru meninggal dunia tanggal 29 Agustus 2021 setelah 10 tahun dirawat.

Sementara adiknya Alfaris Yorsin (14) juga mengalami kelumpuhan akibat kekurangan gizi sejak kecil.

“Dulu berobat ke dokter di rumah sakit tetapi hanya 6 kali berobat saja. Berobatnya dari pagi hingga sore baru pulang sehingga saya takut rumah saya dibobol maling karena seharian ditinggal pergi,” ujarnya.

Elsi mengaku, selama 2 hari sekali harus berobat ke dokter dan meninggalkan rumahnya dalam keadaan kosong karena dirinya hanya sendirian di rumah tersebut.

Dirinya mengaku takut perabotan rumah tangga dan ternak peliharaan dicuri orang sebab lingkungan sekitar rumahnya tidak aman.

“Saya merawat anak-anak yang mengalami penyakit. Saya kasihan sebab orang tuanya membiarkan mereka sendirian,” ungkapnya.

Elsi mengaku, kalau ada yang mau memberi bantuan silakan saja, tapi kalau dirinya mencari bantuan itu tidak akan dilakukannya.

Warga Desa Geliting, Kecamatan Kewapante, Maria Imaculata Herliana, mengaku bersama suami tergerak hati untuk membantu anak-anak yang mengalami stunting dan gizi buruk dari keluarga tidak mampu.

Herliana menyebutkan, dirinya bersama sang suami Rofin Muda mengetahui ada anak-anak gizi buruk yang hidup serba kesulitan dan tidak mendapatkan bantuan sehingga mencoba membantu ala kadarnya.

“Masih banyak warga yang anaknya mengalami gizi buruk dan stunting perlu mendapatkan bantuan pemerintah. Perlu dilakukan pendataan secara menyeluruh hingga ke pelosok desa agar bisa ditangani sejak usia dini,” pintanya.

Lihat juga...