Banyak Orang Alami Gangguan Kesehatan Mental Selama Pandemi

Editor: Koko Triarko

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, Zulvia Oktanida Syarif saat memberikan paparan dalam webinar bertajuk Ansietas Terkait Covid-19 yang diikuti Cendana News, Jumat (17/9/2021). -Foto: Amar Faizal Haidar

BANDUNG – Pandemi Covid-19 telah menyebabkan banyak efek domino dalam kehidupan manusia, mulai dari masalah ekonomi, sosial, pendididikan, hingga gangguan kesehatan mental berupa rasa cemas yang berlebihan atau ansietas.

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, Zulvia Oktanida Syarif, mengungkapkan, dari total 2.364 orang yang telah melakukan swaperiksa kejiwaan di website Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, dinyatakan 69 persen di antaranya mengalami masalah ansietas.

“Dari data yang kami punya itu, mereka yang mengalami masalah ansietas didominasi oleh kelompok dewasa muda, wanita, tingkat pendidikan rendah, belum menikah, serta orang yang tidak mendapat dukungan yang cukup dari keluarga,” ungkap Zulvia, dalam webinar bertajuk Ansietas Terkait Covid-19 yang diikuti Cendana News, Jumat (17/9/2021).

Menurut Zulvia, gejala ansietas itu beragam, mulai dari sering merasa khawatir, tertekan, detak jantung cepat, mudah berkeringat, sering gemetar, lesu, sulit konsentrasi, mudah marah dan sulit tidur.

“Semua ini ada faktor pencetusnya, seperti masalah kesehatan, keuangan, keluarga, dan pekerjaan. Kita semua tahu, di masa pandemi seperti saat ini faktor-faktor pencetus ansietas ini sangat rentan terjadi, dan pada akhirnya membuat kesehatan mental seseorang terganggu,” jelas Zulvia.

Ada beberapa tips yang bisa dijalankan oleh mereka yang mulai mengalami gejala ansietas tersebut. Antara lain, menciptakan rutinitas baru, terus berupaya melakukan kontak sosial meski secara virtual, meluangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang disenangi, serta berpikir positif.

“Satu lagi hal yang penting, batasi asupan informasi harian. Kita tidak harus selalu meng-update berita yang bisa memicu kecemasan, seperti berita-berita Covid-19. Dan, saya sangat menganjurkan untuk mengkonsumsi berita dari sumber yang terpercaya,” kata Zulvia.

Di forum yang sama, Putri Purnama, salah seorang penyintas Covid-19 bercerita, bahwa sejak terpapar Covid-19 ia merasa menjadi orang yang lebih emosional dan mudah marah. Ia mengaku sempat khawatir menderita penyakit ansietas.

“Kalau tidur malam saya suka tiba-tiba terbangun dan gelisah. Ini berlangsung cukup lama, dan sampai sekarang kadang mengalami hal serupa,” ucap Putri.

Namun, ia mengaku bersyukur memiliki kesempatan berkonsultasi dengan seorang psikiater, dan pada akhirnya ia mulai sedikit demi sedikit mengendalikan emosinya.

“Ada satu nasihat yang saya ingat betul, bahwa kecemasan adalah hal wajar yang dialami seseorang. Walau terasa menakutkan, tapi bila kita mau menghadapinya (rasa cemas),  kita akan bisa merasa lebih lega. Ini saya buktikan, dan sekarang sudah makin membaik,” pungkas Putri.

Lihat juga...