Banyak Peluang Usaha di Sektor Pertanian Bandar Lampung

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sektor usaha berbasis pertanian atau agrobisnis, masih menjadi sumber penghasilan bagi sebagian warga di Lampung. Kemajuan zaman tak menggerus potensi ekonomi di sektor tersebut. Sebaliknya, teknologi pertanian justru menambah peluang usaha di bidang tersebut.

Suyitno, salah satu petani di Kelurahan Rajabasa Jaya, Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung, menyebut modernisasi tidak lantas menggeser sektor pertanian. Ia bahkan ikut bertransformasi dalam penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan).

Sejumlah usaha pendukung digunakan mulai dari alat pengolah tanah hingga pemanen padi. Alat pengolah lahan yang digunakan itu semula berupa bajak tenaga kerbau atau sapi. Sejak belasan tahun terakhir, sebagian petani termasuk dirinya memakai traktor mesin, yang memiliki kecepatan dalam proses pengolahan tanah.

Sebagian mesin traktor, sebut Suyitno digunakan dengan sistem sewa. Selain memakai mesin traktor, serapan usaha pada sektor pertanian padi masih terbuka. Pada tahap penanaman padi, serapan tenaga buruh tanam di wilayah itu belum tergantikan dengan mesin penanam padi (rice transplanter). Sistem gepyok dipertahankan, meski sebagian petani mulai memakai mesin pemanen (combine harvester).

“Saya gunakan mesin pemanen padi, sehingga lebih cepat dengan biaya sistem hamparan, hanya butuh waktu kurang lebih dua jam selesai, limbah jerami yang dihasilkan juga mudah dikumpulkan di satu tempat untuk bisa digunakan sebagai pupuk organik,” terang Suyitno, saat ditemui Cendana News, Selasa (14/9/2021).

Ia mengatakan, hasil panen padi sebagian dijual ke pengepul. Hasil panen pada masa panen gadu atau ke tiga memiliki harga dasar Rp4.000 per kilogram. Harga gabah kering panen (GKP) bisa berpotensi mencapai Rp4.300 per kilogram.  Namun saat memasuki masa panen kerap turun hujan, kadar air cukup tinggi. Imbasnya, ia harus rela menjual GKP dengan potongan kadar air yang banyak.

Pelaku agrobisnis, Ngadimun, menunggu hasil panen padi milik petani di Lampung Selatan untuk dijual ke pulau Jawa, Selasa (14/9/2021). -Foto: Henk Widi

Usai melakukan panen padi, Suyitno tidak membiarkan lahan terlantar. Ia memanfaatkannya untuk menanam palawija. Jenis sayuran berupa bawang daun, kangkung, bayam cabut dan tomat rampai dibudidayakan. Pemanfaatan lahan sawah yang telah dipanen, menjadi penyelang sebelum masa penanaman padi akhir tahun mendatang.

“Potensi pengembangan usaha agraris masih dipertahankan warga, meski banyak lahan dijual sebagai lokasi permukiman,” ulasnya.

Hasil usaha sektor pertanian, sebut Suyitno memiliki keuntungan yang menjanjikan. Setelah penjualan padi, sebagian digunakan sebagai modal usaha menanam sayuran. Selain memanfaatkan lahan berbasis pertanian, ia juga menggeluti bisnis perikanan. Pola tumpangsari menghasilkan ikan lele, nila dan gabus yang dijual saat usia tiga bulan.

Potensi bisnis pertanian juga digeluti oleh Ngadimun, yang memanfaatkan peluang hasil panen padi. Ia memanfaatkan modal untuk membeli gabah dari petani dalam bentuk GKP. Selanjutnya, gabah dijual ke sejumlah usaha penggilingan padi di wilayah Banten. Selisih penjualan dari petani ke pengepul menjadi keuntungan baginya. Ia juga bisa menyerap sejumlah tenaga kerja bongkar muat.

“Bisnis jual beli gabah atau padi masih jadi peluang untuk mendapatkan keuntungan, karena hanya ditekuni sebagian orang,” ulasnya.

Ngadimun juga membeli gabah di wilayah Lampung Selatan dan Lampung Timur. Saat musim panen padi, ia menyebut harga GKP pada level petani mengalami pasang surut. Menyesuaikan kondisi cuaca, harga GKP bisa mencapai Rp3.700. Kadar air rendah imbas kerap turun hujan menjadi alasan harga bisa turun. Meski demikian gabah bisa dikeringkan memakai alat pengering mesin, sehingga menghasilkan beras berkualitas.

Lihat juga...