Berdamai dengan Sedimentasi Sungai Maksimalkan Kelestarian Lingkungan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Lumpur sawah, perkebunan dan tambak hingga kegiatan membuang sampah, limbah plastik menyebabkan sejumlah aliran sungai di Lampung Selatan mengalami sedimentasi. Dampaknya, sejumlah perahu berukuran besar milik nelayan tidak bisa masuk karena lunas perahu kandas.

Wayan Suwarno, sekretaris Desa Sumber Nadi, Kecamatan Ketapang menyebutkan, sedimentasi atau pendangkalan permukaan sungai miliki dua dampak. Dampak negatifnya, alur sungai menyempit dan membuat nelayan terpaksa menyandarkan perahu di dekat pantai.

Proses sedimentasi secara alami puluhan tahun sebutnya berdampak positif bagi lingkungan. Suksesi alami terjadi oleh sedimentasi lumpur dari sungai, dorongan air laut pada tepi pantai. Lumpur yang terakumulasi menjadi habitat alami vegetasi mangrove.

“Bijak dalam mengelola sungai pada daerah pasang surut air laut mengurangi dampak negatif sedimentasi,” terang Wayan Suwarno saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (8/9/2021).

Sedimentasi sebut Wayan Suwarno tidak sepenuhnya buruk bagi lingkungan. Sebab sedimantasi menjadi metode reklamasi oleh alam untuk keberlangsungan vegetasi tepi pantai. Pada kurun puluhan tahun luasan vegetasi mangrove yang semula tidak ada bertambah menjadi 60 hektare. Langkah penambahan vegetasi memanfaatkan sedimentasi dilakukan dengan penanaman bibit baru.

“Target luasan lahan bisa bertambah setiap tahun, endapan lumpur yang ada ditanami mangrove,” sebutnya.

Lumpur hasil buangan tambak sebut Wayan Suwarno dikelola dengan baik. Sejumlah usaha tambak membuang lumpur siponan oleh kotoran pakan udang. Setelah diendapkan dengan residu kimia telah berkurang bisa dibuang ke vegetasi tanaman api api. Kondisi lumpur sebagai sedimen menjadi pupuk dan penyubur pada tanaman mangrove.

Sedimentasi pada sungai berdampak negatif sekaligus positif juga diakui Hasanudin. Warga Bakauheni itu menyebutkan, puluhan tahun silam nelayan dengan perahu ukuran belasan meter bisa masuk ke alur sungai. Penggundulan bukit, pembangunan proyek jalan tol Sumatera menambah volume lumpur di sungai Pegantungan. Imbasnya kala penghujan sungai meluap ke permukiman.

“Normalisasi dan pembuatan tanggul telah dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum sehingga sedimen lumpur bisa dibuang,” ulasnya.

Kesadaran warga menjaga kebersihan sungai juga meningkat. Imbasnya hanya lumpur yang terbawa aliran sungai sampai di muara. Bentangan muara sisi Barat dan Timur menjadi habitat mangrove yang subur. Sedimentasi justru memperluas vegetasi mangrove di wilayah itu. Pada jangka panjang, luas daratan akan bertambah secara alami. Sebagai reklamasi alamiah, sebagian mangrove ditanami dengan bibit baru.

Nelayan sebutnya mulai berdamai dengan alam, memaksimalkan kelestarian sungai. Hasanudin bilang akan sulit melawan sedimentasi. Pasalnya pembangunan dan pemanfaatan lahan untuk ladang mengakibatkan kikisan tanah. Biaya operasional tinggi mendatangkan alat berat pengeruk sungai jadi alasan sedimentasi dibiarkan.

Sukamto, salah satu nelayan tengah menyiapkan perahu di Muara Piluk, Bakauheni, Lampung Selatan, Rabu (8/9/2021). Foto: Henk Widi

Sejumlah nelayan memilih membuat kolam tambat perahu baru tanpa memanfaatkan sungai. Hasanudin bilang dengan adanya sedimentasi oleh lumpur dan sampah mudah terurai akan memberi kehidupan baru. Vegetasi mangrove sebutnya bisa subur oleh berbagai lumpur dari perbukitan. Campuran lumpur yang mengendap memperluas wilayah yang ditumbuhi mangrove.

Sedimentasi sungai dan pantai oleh sampah sebagian masih berlangsung saat angin Timur dan Barat. Sukamto, nelayan di Muara Piluk menyebut sampah tetap terbawa oleh aliran sungai. Sebagian nelayan memilih membersihkan sampah di tepi pantai dan alur masuk perahu. Sampah jenis senar, plastik kerap mengganggu baling baling perahu.

Sebagian dimanfaatkan untuk talud penahan longsor dengan cara menyimpan dalam karung. Sampah yang terdampar di perairan sebutnya tidak hanya berasal dari sejumlah sungai di Lampung. Arus laut yang membawa sampah bahkan kerap berasal dari wilayah Banten. Sampah yang terdampar di sejumlah pantai oleh warga dikumpulkan dengan cara dibakar. Sebab sedimentasi pada pantai berdampak pada sulitnya perahu bersandar.

Lihat juga...