Berkat Program DCML Keluarga Miskin Ini Miliki 11 Domba

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Pelan tapi pasti, program Desa Cerdas Mandiri Lestari (DCML) yang dijalankan Yayasan Damandiri, sejak tahun 2017 lalu, terbukti mampu mengubah kondisi hidup sebagian masyarakat Desa Trirenggo, Bantul, Yogyakarta.

Sejumlah warga miskin yang sebelumnya hidup dalam kondisi kurang berkecukupan, kini nampak mulai bertambah sejahtera dan meningkat taraf hidupnya. Seperti terlihat pada keluarga pasangan Parno (50) dan Marsidah (43).

Pada tahun 2017 lalu, warga Dusun Tanuditan, Kweden 07, Trirenggo, Bantul ini, masuk dalam kategori warga miskin yang menerima bantuan program DCML. Selain mendapatkan program bantuan bedah rumah senilai Rp20 juta mereka juga mendapatkan bantuan modal usaha berupa warung kelontong berikut isinya senilai Rp2,5 juta.

“Ya, kita sangat berterima kasih menerima bantuan itu. Saat itu, usaha warung kelontong, istri (Marsidah) yang menjalankan. Sedangkan saya kerja serabutan sambil pelihara kambing dan domba,” ujar Parno saat ditemui Cendana News, Senin (27/9/2021).

Setelah berjalan beberapa tahun, usaha warung kelontong Marsidah diketahui kurang bisa berkembang. Hal itu disebabkan karena usaha itu kurang bisa bersaing dengan warung dan toko lain yang banyak terdapat di sekitar kampungnya. Alhasil mereka pun memutuskan untuk fokus pada usaha budidaya dan jual beli kambing-domba.

Siapa sangka usaha kambing dan domba yang dijalankan pasangan ini ternyata menjadi pintu rejeki luar biasa bagi mereka. Jika awalnya hanya memiliki dua ekor kambing, kini usaha budi daya mereka telah berkembang pesat menjadi sebanyak 11 ekor. Baik itu untuk budi daya, pembesaran, atau pun jual-beli.

“Alhamdulillah sekarang sudah lumayan. Saat ini saya punya dua ekor indukan betina yang sedang bunting. Lalu lima ekor siap untuk pembesaran, biasanya nanti dijual untuk kurban, akikah atau diambil warung sate. Serta empat ekor koleksi untuk putaran jual-beli di pasar,” ungkap Parno.

Selain memelihara kambing dan domba, Parno mengaku juga bekerja serabutan sebagai pengantar barang di pasar. Usaha jasa angkut itu ia jalankan dengan memanfaatkan motor roda tiga bekas yang ia beli dari hasil pinjaman modal usaha pada beberapa tahun silam.

“Alhamdulillah, kemarin, baru sekitar satu bulan, saya bisa beli motor roda tiga baru seharga Rp 28 juta. Ya hasil tabungan dari usaha budi daya dan jual beli kambing dan domba ini,” bebernya.

Saat ditanya kunci keberhasilannya dalam meningkatkan penghasilan dan taraf hidup keluarga, Parno menyebut pengelolaan keuangan adalah jawabanya. Ia mengaku selalu memilah-milah sekecil apa pun setiap hasil keuntungan untuk keperluan yang telah ia tentukan sebelumnya.

“Usaha budi daya dan penggemukan kambing itu kan lama bisa bulanan dan tahunan, jadi ya hasilnya hanya sebagai tabungan. Kalau jual beli, bisa lebih cepat. Itu yang saya gunakan untuk memutar modal dan menambah aset kambing. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ya dari hasil jasa angkutan. Itu pun sebagian sudah saya sisihkan untuk biaya bensin, biaya perawatan kendaraan, dan lain-lain. Jadi semua aman,” katanya.

Sementara Parno bekerja dan berjualan kambing di pasar-pasar, Marsidahlah yang bertugas mengurusi kambing dan domba di rumah.

Selain mengambil pakan berupa ampas tahu di tempat langganan, ia juga yang biasa memberi pakan rumput dan membersihkan kandang ternaknya.

Pasalnya selama ini mereka memelihara kambing dan domba di lahan milik orang lain yang mereka sewa.

Lihat juga...