BPPSDMP : Pengelolaan Bijak Lahan Gambut Dapat Tingkatkan Produktivitas Pertanian

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr, menyebutkan, keberadaan lahan gambut yang cukup banyak di Indonesia dianggap mampu meningkatkan produktivitas pertanian dalam menjaga ketahanan pangan nasional, selama pengelolaannya dilakukan secara bijak.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr, menyampaikan pentingnya pengelolaan lahan gambut secara bijak dalam mendukung peningkatan produktivitas pertanian, dalam acara pertanian, Senin (6/9/2021) – Foto Ranny Supusepa

Disebutkan, selama pandemi pertanian masih menunjukkan pertumbuhan positif, 16,24 persen pada awal pandemi di kuartal II tahun 2020. Begitu juga sepanjang pandemi, hingga kuartal II tahun 2021.

“Hal ini menunjukkan bahwa pertanian memiliki ketahanan tinggi dalam menghadapi masalah pada perekonomian nasional. Jadi kalau kita mau melakukan pengoptimalan produktifitas pertanian, maka diperlukan pengelolaan lahan yang bijak. Terutama untuk lahan gambut,” kata Dedi dalam acara pertanian, Senin (6/9/2021).

Ia menyebutkan penurunan anggaran pertanian pun tak menyurutkan kinerja sektor pertanian.

“Kita memiliki banyak lahan gambut. Terutama di Sumatera dan Kalimantan. Juga di wilayah Indonesia bagian timur, seperti Papua, dimana lahan rawanya mampu menghasilkan 8-9 ton padi per hektar, walaupun masih dalam tahap demplot,” ucapnya lagi.

Disebutkan, kalau lahan-lahan ini dapat dioptimalkan, diharapkan produktifitas pertanian secara nasional dapat lebih ditingkatkan.

“Hanya kendalanya adalah lahan gambut ini sangat rentan. Saat musim hujan ia dapat menurun, saat musim kemarau, gampang terbakar,” urai Prof. Dedi.

Dalam kesempatan yang sama, Peneliti Utama Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, Prof. Dr. Ir. Masganti, M.S, menjelaskan, gambut merupakan material atau bahan organik yang tertimbun dalam waktu lama, tapi karena kondisinya basah, maka kondisi gambut ini masam dan tidak mampat.

“Tanah gambut ini merupakan tanah yang memiliki ketebalan lapisan gambut lebih dari 50 cm dan kandungan organiknya lebih dari 30 persen. Prosesnya sendiri, membutuhkan waktu ribuan tahun. Contohnya, di Kalimantan Tengah, ada lapisan gambut setebal lima meter yang umurnya 8.260 tahun,” kata Prof Masganti.

Jika dilihat dari tingkat kesuburannya, lapisan gambut akan dibagi tiga. Yaitu Eutrofik yang paling subur, mesotrofik dan oligotrofik yang paling miskin hara.

“Tingkat kesuburan gambut ini akan berkaitan dengan fungsi gambut sebagai lahan penghasil sumber pangan. Karena itu lah, kita harus bisa memahami karakteristik gambut, yang mana mayoritas sifatnya adalah oligotrofik yang masam, rendah kadar N,P dan K -nya dan memiliki kadar abu tinggi,” urainya.

Pengelolaan kesuburan tanah gambut akan meningkatkan produktivitas, pendapatan petani dan menjaga lingkungan sekitar atau meminimalisir dampak negatif pada lingkungan.

“Ada empat yang harus diperhatikan dalam pengelolaan gambut. Yaitu pengelolaan amelioran, hara, air dan tanaman yang dibudidayakan. Tujuannya adalah memastikan tindakan yang diberikan akan menjaga kesuburan gambut dan mengurangi risiko kekeringan dan kebakaran lahan. Selain itu, memastikan tanaman budidaya mendapatkan nutrisi sesuai kebutuhan dari tanaman tersebut,” urainya lagi.

Dengan melakukan pengelolaan tepat, lahan gambut dapat dikelola dengan sistem tumpang sari maupun monokultur. Walaupun, dari kajian, tumpang sari memiliki tingkat emisi yang lebih rendah dibandingkan monokultur.

“Jadi pengelolaan lahan gambut secara bijak, baik pada pertanian maupun perkebunan, akan mampu memberikan hasil optimal produksi sumber pangan maupun komoditas bernilai ekonomi seperti kelapa sawit,” pungkasnya.

Lihat juga...