Damandiri Berikan Inspirasi Ciptakan Produk Makanan Unik

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Program Desa Cerdas Mandiri Lestari (DCML) yang dijalankan Yayasan Damandiri terbukti tak hanya mampu mendorong pemberdayaan swadaya di lingkup masyarakat terkecil seperti RT saja.

Lebih dari itu, program yang telah dijalankan di sebanyak 15 desa di berbagai daerah di Indonesia ini ternyata juga mampu menginspirasi warga masyarakat untuk melakukan berbagai inovasi guna menopang kemandirian perekonomian mereka.

Seperti terlihat di RT 04 Kampung Taman Candimulyo, Padukuhan Karangmojo, DCML Tamanmartani Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Sejak beberapa tahun terakhir, warga di kampung ini aktif melakukan pemberdayaan di sektor lingkungan dengan menanam berbagai jenis tanaman produktif.

Selain memanfaatkan hasilnya untuk kebutuhan sehari-hari, mereka juga mampu mengolah berbagai jenis hasil panen tanaman tersebut menjadi produk makanan bernilai jual tinggi. Seperti sirup bunga rosela, agar-agar, selai dan dodol kesemek Mexico, hingga teh bunga telang, dan sebagainya.

Penggerak sekaligus Ketua RT 04, Seto Legowo, mengaku, mendorong warga masyarakat menanam berbagai jenis tanaman buah di lahan pekarangan rumah masing-masing agar hasilnya bisa dimanfaatkan ibu-ibu menjadi produk makanan yang bisa dijual.

Dengan memproduksi berbagai macam makanan ini diharapkan mereka pun bisa mendapatkan pemasukan tambahan bagi keluarga.

“Semua warga kita minta menanam bunga Rosela di halaman rumah masing-masing. Biasanya efektif setiap musim hujan. Rosela ini dipilih karena mudah ditanam. Selain itu Rosela juga kaya akan manfaat, sehingga bisa diolah menjadi produk sirup kesehatan yang berkhasiat menurunkan kadar gula darah, asam urat, dan sebagainya,” katanya, Rabu (22/9/2021).

Selain bunga rosela, warga juga didorong untuk menanam pohon Kesemek Mexico atau biasa disebut Black Sapote.

Buah asal Amerika Tengah ini dipilih karena langka serta memiliki kandungan vitamin C empat kali lipat lebih banyak dibandingkan jeruk biasa sehingga sangat potensial untuk diolah menjadi puding, agar-agar, es krim, selai hingga dodol.

“Ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) sudah mencoba membuat sampel sirup bunga rosela. Dari 1/5 kilo bunga, kira-kira bisa jadi 8 botol sirup. Satu botol sirup sendiri kita jual Rp20 ribu,” ungkap salah seorang anggota KWT, Ranti.

Salah seorang anggota KWT Kampung Taman Candimulyo, Pedukuhan Karangmojo, DCML Tamanmartani Kalasan, Sleman, Yogyakarta, Ranti, Rabu (22/9/2021) – Foto: Jatmika H Kusmargana

Ranti menambahkan untuk produk dodol kesemek Mexico, ibu-ibu KWT juga telah membuat sampelnya. Dari uji coba yang dilakukan, dodol Black Sapote ini bisa bertahan hingga 10 hari meski tanpa bahan pengawet makanan sekalipun.

“Kita terus mencoba melakukan inovasi-inovasi baru dengan membuat produk olahan makanan dari tanaman atau buah yang kita tanam di lingkungan sekitar. Diharapkan upaya ini bisa menjadi solusi bagi kemandirian perekonomian warga, khususnya ibu-ibu rumah tangga,” katanya.

Lihat juga...