Dari Teras Rumah, Wanita ini Raup Keuntungan dari Penjualan Komoditas Pertanian

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Teras rumah kontrakan Farida Zarkasih dipenuhi ragam komoditas pertanian di antaranya singkong, ubi, talas, pisang, dan kelapa. Semua komoditas itu siap dijual kepada masyarakat sekitar rumahnya, dan keuntungan pun diraupnya.

“Awalnya saya iseng ya, jualan singkong, ubi dan pisang di teras rumah ini. Alhamdulillah permintaan konsumen terus meningkat, khususnya singkong,” ujar Farida, kepada Cendana News ditemui di rumah kontrakannya di wilayah Jakarta Timur, Selasa (14/9/2021).

Semua bahan komoditas itu dipasok dari petani lokal di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Dalam sebulan ia menerima lima kali pengiriman.

“Saya asli Sukabumi, saudara ada yang petani nanam singkong dan lainnya. Saya coba jualan hasil pertanian dia, alhamdulillah lancar sudah tiga tahun ini,” ujar ibu satu anak ini.

Menurut Farida, tingginya permintaan komoditas pertanian khususnya singkong karena merupakan makanan alternatif menu makanan keluarga. Terlebih singkong memiliki kandungan zat karbohidrat cukup tinggi.

Apalagi saat ini sudah musim penghujan, singkong banyak dijadikan panganan keluarga. Seperti singkong goreng, comro, misro, getuk, rebus, ketimus, kue putri noong, bolu dan lainnya.

“Terjual dua ton singkong dalam dua hari. Kalau ubi dan talas itu biasanya masing-masing 50 kilogram terjual. Pisang bertandan-tandan juga terjual, dan puluhan kelapa,” ujarnya.

Menurutnya yang banyak diburu pembelinya adalah singkong, baru ubi, talas dan pisang tanduk. Keuntungan yang didapat juga lumayan besar.

“Saya pasok singkong itu dari petani Sukabumi dengan harga Rp3.500 per kilogram dan dijual Rp5000 perkilo gram. Terjual 2 ton dalam dua hari saja, keuntungannya lumayan. Ditambah dari penjualan ubi, talas, pisang dan kelapa,” ujarnya.

Adapun jelas dia, harga ubi dari petani Rp6.000 per kilogram, dijual Rp 7000 per kilogram. Sedangkan talas itu Rp7.000 per kilogram, dan dijual Rp8.000 per kilonya. Pisang tanjuk setandan Rp65 ribu, dijual Rp80 ribu. Kelapa hijau perbutir Rp 13 ribu, dijual Rp 15 ribu per butirnya.

“Alhamdulillah keuntungan dalam dua hari penjualan itu sekitar Rp1 jutaan lebih. Kalau sebulan pasok lima kali, ya pendapatan lumayan,” ujar perempuan kelahiran Sukabumi 52 tahun ini.

Selain warga sekitar rumahnya, kata Farida, pembelinya juga ada tukang sayuran.
“Ada pedagang sayur yang beli singkong dan komoditas lainnya di sini, untuk mereka jual lagi. Jadi ya permintaan cukup tinggi,” tandasnya.

Andini (32) salah satu pembeli mengaku kerap membeli singkong ke Farida. Selain harganya murah, juga rasa singkongnya beda sangat empuk saat di rebus.

“Kalau direbus, singkongnya ini empuk banget, pulen rasanya juga gurih. Beda dengan singkong beli di pasar,” ujar Andini, kepada Cendana News, Selasa (14/9/2021).

Begitu juga dengan Dika (41) mengaku membeli singkong untuk diproduksi menjadi panganan keripik yang akan dijualnya lagi.

“Saya beli singkong dalam jumlah banyak sekitar 30 kilogram, untuk diolah jadi keripik pedas dan asin, dijual lagi nanti. Kalau ubi dibikin kue talam,” ujar Dika.

Lihat juga...