Dengan Metode Tepat, Pembelajaran Daring akan Beri Hasil Optimal

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Tantangan pembelajaran daring di masa pandemi, bukanlah hal yang tak bisa diselesaikan. Bahkan dengan memberikan metode yang tepat, diyakini mampu untuk memberikan kepemilikan pada peserta didik terkait proses dan hasil pembelajaran.

Pengajar SD Mutiara Harapan Islamic School (MHIS), Arum Andita menyatakan metode pembelajaran daring yang diberlakukan di sekolahnya telah berkembang seiring berjalannya waktu. Di mana pada tahun kedua pandemi, peserta didik, orang tua dan pengajar telah mengadaptasi metode ini dengan baik.

“Kreativitas siswa semakin bertumbuh dan beragam, dikarenakan adanya kesempatan bagi siswa untuk memilih ide orisinil mereka, mempunyai fase dan waktu pembelajaran yang sesuai dengan mereka (students paced), peserta didik diberikan kebebasan untuk menentukan kepemilikan atas proses dan hasil pembelajarannya,” kata Arum saat dihubungi, Kamis (2/9/2021).

Ia menjelaskan, metode pembelajaran daring yang diterapkan di MHIS, sangat mengedepankan kolaborasi team, sehingga dibutuhkan komunikasi yang baik antar siswa, orang tua, guru dan sekolah.

“Metode ini tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik yang diukur dari capaian indeks kumulatif, namun lebih kepada penguasaan life skills peserta didik. Pencapaian tujuan pembelajaran ini tidak terpaku pada standarisasi nilai, namun lebih kepada proses yang seimbang untuk melatih peserta didik sebagai pemecah masalah, inovator, insan yang solutif dan menjadi pribadi yang dapat menjawab tantangan masa depan yang belum terprediksi,” urainya.

Arum menyebutkan pada masa pandemi yang diakibatkan oleh virus COVID 19 ini, tak hanya pelaku pendidikan tapi semua yang terkait dalam sektor pendidikan tertantang untuk mencari cara baru dalam memberikan pengajaran.

“Kita bukan hanya memindahkan proses onsite ke online, namun lebih kepada bagaimana beradaptasi dengan keadaan yang baru. Tujuannya adalah Achieving learning outcomes yang menciptakan penguasaan skill abad 21. Kami memfokuskan pada Soft skill yang menjadi bekal masa depan siswa. Digital based skills yang mampu menjawab tantangan masa depan yang belum terprediksi,” urainya lagi.

Arum menjelaskan metode pembelajaran yang digunakan di MHIS adalah Flipped Classroom: Synchronous & Asynchronous learning dimana metode yang digunakan adalah menyeimbangkan antara sesi live dan students paced.

“Siswa belajar pada waktu yang sesuai dengan fase mereka. Lebih terbuka ruang untuk kreatif, channelling their ideas untuk lebih bersinar. Mengaplikasikan Project Based Learning with steam frameworks ( project based learning dengan pendekatan interdisipliner, multi subjects). Menantang siswa belajar “ go beyond the classroom”. Belajar menjadi problem solver dan menciptakan produk yang berguna bagi masyarakat. Fokusnya adalah 5C’s yaitu level creating,” paparnya.

Ia menyebutkan metode ini sudah mulai diaplikasikan di MHIS sebelum Indonesia terkena pandemi. Yang dimulai dengan fase ekosistem-training- infrastruktur-supporting struktur. Sehingga ketika pandemi melanda, semua sudah dapat dijalankan dengan baik dan sesuai sistem.

“Respon siswa sangat antusias dengan perubahan proses pembelajaran. mereka dapat beradaptasi dengan cepat karena termasuk gen aplha yang terbiasa menggunakan tekhnologi,” ujarnya.

Arum menekankan peran penting orang tua dalam pembelajaran daring. Dimana, sekolah dan orang tua berkolaborasi sebagai partner. Bukan sebagai penjual dan pembeli.

“Sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan mencapai tujuan yang diharapkan bersama. tentunya orang tua adalah garda terdepan dalam proses pembelajaran daring. Support orang tua siswa sangat diperlukan selama proses pembelajaran ini,” paparnya lagi.

Pengajar SD Mutiara Harapan Islamic School (MHIS) Arum Andita membacakan cerita dalam bahasa Inggris untuk memicu minat peserta didik berpartisipasi, disampaikan saat dihubungi, Kamis (2/9/2021) – Foto Ranny Supusepa

Arum Andita mengakui penerapan metode ini bukannya tak mengalami kendala. Terutama bagi para pengajar, yang dituntut untuk lebih inovatif dan kreatif.

“Kita tidak bisa menempatkan siswa berada di zaman yang sama seperti masa kita sekolah dahulu. Tantangan masa depan selalu ada di depan mata mereka. Melihat Pandemi COVID 19 sebagai salah satu jalan keluar kepada peradaban baru. Era digitalisasi. Bukan sebagai suatu batu penghalang untuk terus maju dan berkembang,” kata pengajar kelas 1 ini.

Saat belum pernah bertemu siswa sebelumnya, ia menekankan tahun pertama di sekolah dan adaptasi antar sesama siswa sangat dibutuhkan.

“Kesendirian dan kebosanan siswa akan rutinitas pembelajaran yang monoton cenderung membuat siswa tidak termotivasi belajar. Sangat dibutuhkan suatu sistem pembelajaran yang kolaboratif, inovatif dan komunikatif. Memberikan siswa proses dan ownership atas prosesnya. Cara ini diharapkan bisa menghapus potensi learning loss, yaitu kegagalan dalam pencapaian target pembelajaran dan skill yang tidak terimbangi dengan proses yang baik dan terencana,” pungkasnya.

Lihat juga...